Iklan Responsive Bawah

Khazanah dan Sejarah Terbentuknya Tradisi Robo-Robo di Kalimantan Barat


Salah satu alasan kenapa bangsa Indonesia layak disebut sebagai bangsa yang kaya karena memiliki ragam tradisi dan kebudayaan. Salah satu kebudayaan yang terkenal di Indonesia yaitu tradisi Robo-Robo di Kalimantan Barat. Apa itu tradisi Robo-Robo? Sejenis acara peringatan (upacara) atas kedatangan Opu Daeng Menambun dari suku Melayu.

Opu Daeng Menambun sendiri ialah seorang raja di Kerajaan Mempawah. Ia juga dikenal sebagai tokoh agama Islam Kerajaan Mempawah yang giat menyebarkan dakwah. Sejarah Robo-Robo yang panjang, tidak terlepas karena peranan Opu Daeng.

Itu berawal dari kedatangan rombongan Opu Daeng dan istrinya, Putri Kesumba, yang juga merupakan cucu dari Panembahan Mempawah saat itu. Tujuan mereka datang ke Mempawah yaitu untuk serah terima kekuasaan dari Panembahan Putri Cermin kepada Putri Kesumba.
Atas serah terima kekuasaan tersebut, Putri Kesumba pun diberi gelar Ratu Agung Sinuhun. Tidak hanya Putri Kesumba saja, Opu Daeng pun juga diberi gelar Pangeran Mas Surya Negara sekaligus diberi jabatan sebagai pejabat raja pada Kerajaan Bangkule.

Ketika tiba di Muara Kuala Mempawah, rombongan mereka disambut dengan kebahagiaan oleh masyarakat Mempawah. Penyambutan itu dilakukan dengan cara yang unik. Masyarakat memasang berbagai kain dan kertas warna-warni di rumahnya masing-masing. Bahkan, sebagian warga juga menyambut masuknya Opu Daeng dengan menggunakan sampan.

Sambutan penuh antusias dari masyarakat Mempawah tersebut membuat Opu Daeng terharu. Atas hal itu, Opu Daeng memberi bekal makanannya kepada masyarakat sekitar agar bisa dinikmati secara bersama. Sebelum makan, mereka berdoa agar dijauhkan dari bahaya dan malapetaka. Proses itulah yang kemudian dijadikan sebagai awal tradisi Robo-Robo

Ternyata, kedatangan rombongan Opu Daeng juga bertepatan dengan Minggu terakhir bulan Safar. Bagi sebagian masyarakat di berbagai daerah di Indonesia, bulan Safar dianggap sebagai bulan sial. Oleh karena itu, masyarakat yang percaya terhadap hal tersebut menggelar ritual khusus agar terhindar dari “kesialan” bulan Safar.

Hal ini berbeda dengan masyarakat Mempawah yang meyakini bahwa bulan Safar sebagai bulan penuh berkah sehingga kedatangannya pun dinanti-nanti. Atas dasar itulah kemudian diperingati ritual Robo-Robo. Penamaan Robo-Robo itu sendiri ditetapkan karena ritual tersebut dilangsungkan pada Rabu terakhir bulan Safar berdasarkan kalender Hijriah.
Khazanah dan Sejarah Terbentuknya Tradisi Robo-Robo di Kalimantan Barat

Tradisi Robo-Robo di Kalimantan Barat hingga saat ini masih dilakukan oleh keturunan kerajaan dan masyarakat Mempawah. Prosesnya diawali dari keberangkatan menggunakan Perahu Bidar dan Perahu Lancang Kuning. Kemudian, dilanjutkan dengan upacara Robo-Robo yang diselenggarakan di Sungai Mempawah tepat pada Rabu terakhir bulan Safar.

Ritual tersebut diawali dengan dikumandangkannya azan, lalu disusul dengan pembacaan doa oleh Pemangku Adat Istana Amantubillah, Kerajaan Mempawah. Setelah itu, dilanjutkan dengan prosesi ritual buang-buang, dan yang terakhir yaitu makan saprahan. Tradisi ini sarat akan budaya dari suku Melayu dan terdapat nilai agam Islam yang kuat

Bagi warga keturunan Bugis di Kalbar, tradisi ini biasanya diperingati dengan cara makan bersama dengan keluarga di halaman rumah. Lokasi ritual ini tersebar di beberapa lokasi di Mempawah, seperti di Istana Amantubillah, di muara Sungai Mempawah, di kompleks pemakaman para Sultan Mempawah, dan di makam Opu Daeng Menambon.

Sejarah tradisi Robo-Robo di Kalimantan Barat memang sarat dengan nilai atau unsur agama dan sosial. Sebagai masyarakat Kalbar khususnya, sudah semestinya tradisi ini dilestarikan agar tidak punah karena tradisi inilah sebagai pembeda pada setiap daerah di Indonesia. Bagi masyarakat Indonesia, setiap tradisi selayaknya dihormati dan dijaga.

Baca juga:



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Khazanah dan Sejarah Terbentuknya Tradisi Robo-Robo di Kalimantan Barat"

Posting Komentar