Budaya Jawa Tengah Dan D.I Yogyakarta.

 1.JAWA TENGAH.
1.Rumah Adat Jawa Tengah


Penduduk Provinsi Jawa Tengah mengenal beberapa jenis rumah adat. Rumah adat Jawa Tengah dibedakan berdasarkan bentuk atapnya. Ada lima bentuk rumah adat, yaitu rumah adat limasan, joglo atau tikelan, panggangpe, kampung, dan tajug atau masjid.



Rumah limasan yakni rumah dengan atap empat belah sisi dan sebuah bubungan di tengahnya. Rumah joglo yakni rumah dengan saka guru dan atap empat belah sisi dan sebuah bubungan di tengahnya. Rumah joglo tikelan yakni rumah joglo yang atapnya berlipat-lipat. Rumah panggangpe yakni rumah dengan atap sebelah sisi. Rumah kampung yakni rumah dengan atap dua belah sisi dan satu bubungan di tengahnya. Rumah tajuk yakni rumah dengan saka guru empat belah sisi tanpa bubungan sehingga bentuk atapnya meruncing.



Dengan adanya bentuk rumah adat tersebut berkembanglah banyak sekali bentuk rumah yang lain. Berkembangnya bentuk variasi rumah ini dipengaruhi perbedaan ukuran rumah serta situasi dan kondisi wilayah setempat. Variasi bentuk rumah tersebut, antara lain rumah serotong, doro gepak, macam njerum, klabang nyander, kutuk ngambang, gedhang selirang, gedang setangkep, cere gencet, dan sinom. Selain itu, ada juga rumah ukir tradisional di Kabupaten Kudus dan rumah joglo tikelan di Kabupaten Banyumas. Adapun rumah adat yang dijadikan Identitas Provinsi Jawa Tengah yakni rumah joglo.
Bentuk-bentuk rumah adat tersebut mempunyai sifat dan penggunaan sendiri-sendiri. Rumah tajuk biasanya digunakan untuk bangunan yang bersifat suci, menyerupai masjid, makam, ataupun tempat raja bertahta. Oleh alasannya yakni itu, jarang ditemui rumah penduduk berbentuk tajuk. Rumah joglo dan limasan biasanya berupa tempat tinggal golongan atas atau priyayi, termasuk para bendara dan abdi keraton.

Pada umumnya susunan rumah tradisional secara lengkap terdiri atas beberapa bagian, yaitu pintu gerbang, pendopo, pringgitan, dalem, gandhok, dapur, dan lain-lain. Khusus untuk rumah raja-raja atau kaum darah biru masih ditambah lagi beberapa bagian. Tiap-tiap cuilan ini mempunyai fungsi yang berbeda. Namun, tidak setiap jenis rumah mempunyai bagian-bagian tersebut. Bagian rumah pendopo dan dalem terdapat pada bentuk rumah joglo. Bagian pringgitan terdapat pada bentuk rumah limasan.
Bahan bangunan yang digunakan untuk rumah tradisional yaitu kayu jati Kayu jati mempunyai sifat yang baik, diantaranya kayunya keras dan tidak gampang dimakan rengat. Hampir semua cuilan rumah menggunakan jenis kayu jati. Mulai dari saka guru (tiang utama), kerangka, kusen, daun pintu, dan daun jendela. Dinding rumah terbuat dari kayu jati yang disebut gebyok. Ada pula yang menggunakan anyaman bambu yang disebut dengan nama gedhek. Atapnya terbuat dari genteng tanah liat. Dalam mambangun rumah masyarakat Jawa mempunyai kaidah-kaidah tertentu. Ilmu yang mempelajari seni bangunan disebut ilmu kalang. Orang yang mempelajari disebut wong kalang. Kalau dalam istilah cina disebut fengshui.

2.Pakaian Adat Jawa Tengah
Masyarakat Jawa mengenal bermacam-macam pakaian adat. Akan tetapi, yang dijadikan simbol (identitas) pakaian adat Jawa Tengah yakni pakaian adat Surakarta. Pakaian adat Jawa Tengah (Surakarta) dikelompokkan menjadi dua, yaitu pakaian untuk kerabat keraton (bangsawan)dan rakyat biasa. Pakaian adat keraton dibedakan menjadi dua jenis, yaitu pakaian untuk laki-laki dan pakaian untuk wanita.

Pakaian Adat Pria (Jawi Jangkep)
Berdasarkan keperluannya, pakaian adat Jawi Jangkep dibedakan menjadi dua jenis, yaitu pakaian harian dan pakaian bukan harian. Pakaian harian (padintenan) berwarna bukan hitam, sedangkan pakaian bukan harian (sanes padintenan) berwarna selalu hitam yang digunakan untuk upacara adat. Adapun kelengkapan pakaian Jawi Jangkep, mencakup destar (ikat belangkon) dan kuluk, rasukan krowok; artinya berlubang di belakang sebagai tempat keris, sabuk (stagen), epek, timang, dan lerep (semacam ikat pinggang), nyamping (kain), wangkingan atau keris, serta lambaran suku atau selop.


Pakaian Adat Wanita
Pakaian kaum perempuan adat keraton Surakarta merupakan pakaian tradisional Jawa yang mencerminkan putri keraton. Istilah putri keraton ini mengisyaratkan adanya makna keibuan, keanggunan, kelembutan, kesopanan dan sejenisnya. Kelengkapan pakaian putri Keraton Surakarta , mencakup ungkel atau sanggul, kebaya, semekan, setagen, januran, dan slepe menyerupai epek, dan timang (pakaian pria), serta kain panjang (sinjang dan dhodhotan) atau nyamping. Kelengkapan pakaian tersebut pemakaiannya diadaptasi dengan umur, kepangkatan dan keperluannya. Sehubungan dengan hal tersebut di Keraton Surakarta dikenal adanya jenis atau model busana putri.

Pakaian keseharian rakyat biasa dibedakan menjadi dua, yaitu yang dikenakan oleh kaum laki-laki dan kaum wanita. Kaum laki-laki sehari-hari menggunakan pakaian yang terdiri atas celana kolor berwarna hitam, baju lengan panjang, ikat pinggang besar (timang), ikat kepala, dan kain sarung. Kain sarung biasanya dikenakan pada waktu sore hari. Kaum perempuan sehari-hari menggunakan tapih pinjung, setagen, kemben, dan rambut digelung (disanggul)

Pakaian adat  yang digunakan untuk upacara perkawinan terdiri atas pakaian pengantin laki-laki dan pakaian pengantin wanita. Pengantin laki-laki menggunakan pantalon merah dengan pola alas-alasan. Kelengkapan lainnya yaitu ikat pinggang lebar, gasper berbentuk biji jagung, kalung ulur, kuluk mathak, dan selop. Pengantin perempuan menggunakan pakaian berwarna merah dengan cuilan luar mengenakan dodot berpola alas-alasan. Kelengkapan lainnya berupa konde berbentuk mangkuk terbalik dengan krukup, hiasan kembang melati berbentuk biji ketimun, cunduk mentul, gelang, cincin, borokan, beberapa untuaian kembang melati dan selop.

3.Seni Tari Tradisional Dearah jawa Tengah
Secara umum tarian tradisional daerah Jawa Tengah terbagi atas dua jenis, yaitu tarian keraton dan tarian rakyat. Jenis tarian keraton berasal dari lingkungan keraton. Sedangkan tarian rakyat dipergelarkan dalam upacara-upacara adat.

Salah satu pola tarian keraton Surakarta yang populer yaitu tari Bedhaya. Ada beberapa jenis tari Bedhaya yang dikenal masyarakat Jawa Tengah. Salah satunya yakni tari Bedhaya Ketawang yang kami bahas secara lengkap di artikel (Tari Bedhaya Ketawang, Tarian Sakral dari Surakarta). Sedangkan tarian rakyat yang dikenal masyarakat Jawa Tengah salah satunya yakni tari Dolalak.

Beberapa tarian daerah yang terdapat di Provinsi Jawa Tengah antara lain sebagai berikut;
Tari Bambang Cakil, Tari Lengger, Tari Angguk, Tari Kuntulan, Tari Golek, Tari Bondan, Tari Klono Topeng/ Sewandono, Tari Tayub, Tari Rebana, Tari Mbatil, Tari Tani, Tari, Eko Prawiro, Tari Retno Tanding, Tari Menak Koncar, Tari Bondoyudo, Tari Prawiroguno, Tari Bugis Kembar, Tari Srimpi, Tari Gambyong, Tari Gambiranom, Tari Gathutkaca Gandrung, Tari Gathutkaca Gaadhungkawuk, Tari Gunungsari, Tari Dewi Ciptoroso, Tari Bismo Gugur, Tari Srikandi Ajar Manah, Tari Jaran Kepang, Tari Gambiranom Banyumasan, Tari Calung, Tari Capat Cipit, Tari Sintren, Tari Angguk, Tari Tek-Tek, dan Sendratari Kamandaka.

    4.Alat Musik Tradisional Jawa Tengah
Alat musik tradisional Provinsi jawa Tengah yaitu gamelan. Seperangkat musik gamelan terdiri dari beberapa instrumen alat musik. Alat musik tersebut mencakup kendang, bonang barung, bonang penerus, saron, slenthem, gender, gambang, kempul, kenong, kethug, sitter, suling, rebab, keprak dan kepyang, bedug,serta gong. Perangkat musik gamelan tersebut terdiri atas dua laras, yaitu laras slendro dan pelog. Satu perangkat musik gamelan laras slendro dan pelog disebut gamelan sepangkon.

Selain gamelan, di beberapa wilayah Provinsi Jawa Tengah juga ditemukan jenis alat musik lainnya, menyerupai rebana, tambur, calung, dan terompet. Alat-alat musik ini digunakan untuk mengiringi kesenian khas daerah.
5.Upacara Adat Jawa Tengah.
  Masyarakat Provinsi Jawa Tengah mengenal upacara tradisional atau adat yang dinamakan selamatan (selametan). Upacara ini bekerjasama dekat dengan keprecayaan yang berkembang di masyarakat. Ada banyak sekali bentuk upacara selamatan ini. Jenisnya tergantung pada tujuan upacara tersebut dilakukan. Secara umum upacara selamatan dimaksudkan untuk memperoleh keselamatan hidup dan terhindar dari banyak sekali gangguan, baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Dalam tradisi ini disajikan nasi tumpeng dengan banyak sekali lauk pauknya. Sebelum dibagikan, makanan ini dibacakan doa-doa.

Upacara tradisional Provinsi Jawa Tengah sanggup dikelompokkan menjadi dua, yaitu upacara yang bekerjasama dengan daur hidup serta upacara yang bekerjasama dengan aktifitas hidup masyarakat dan lingkungannya. Jenis upacara yang bekerjasama dengan daur hidup masyarakat Jawa Tengah sebagai berikut.

  •     Masa kehamilan, terdiri atas beberapa upacara selamatan,seperti; ngebor-ngebori, dan mitoni atau tingkeban.
  •     Masa kelahiran, terdiri atas beberapa tahap upacara, antara lain brokohan, puputan, , sepasaran, dan selapanan.
  •     Masa kanak-kanak, terdiri atas upacara tedhak siten dan sapihan.
  •     Masa remaja, upacara ini merupakan proses memasuki masa kedewasaan yang ditandai dengan khitanan dan tetesan.
  •     Masa perkawinan, upacara pada masa ini merupakan simbol peralihan status seseorang dari masa lajang ke masa berumah tangga. Upacara perkawinan terdiri atas beberapa tahap, antara lain nakoke, nontoni, peningsetan, seserahan, midodareni, ijab kabul, temon, dan ngunduh mantu.
  •     Masa kematian, banyak sekali upacara selamtan dilakukan semenjak awal hingga keseribu harinya. Tahapan upacara masa maut mencakup brobosan, surtanah, nelung dina, pitung dina, matang puluh dina, nyatus dina, mendhak pisan, mendhak pindho, nyewu dina, dan kol.
Satu lagi jenis upacara yang bekerjasama dengan daur hidup masyarakat yaitu ruwatan. Upacara ruwatan merupakan upacara pembebasan sukerto atau cacat seseorang yang dibawa semenjak lahir. Ruwatan dilakukan semoga si anak terbebas dari ancaman Bathara kala. Salah satu cuilan dari upacara yang dihentikan dilepaskan yakni pemotongan rambut dan pementasan wayang kulit.

Jenis upacara adat yang bekerjasama dengan kegiatan hidup dan lingkungan yang ada di Provinsi Jawa Tengah benyak sekali. Tiap-tiap daerah mempunyai jenis upacara ini. Contoh upacara yang banyak ditemui yaitu nyadran. Nyadran yakni upacara yang dilakuakan setiap menjelang bulan pahala (bulan Jawa; Ruwah). Inti upacara yaitu mengirim doa bagi para leluhur yang sudah meninggal. Upacara ini dilakukan dengan mengadakan kegiatan pembersihan makam keluarga atau leluhur desa secara bergotong royong.

Beberapa bentuk upacara adat di Provinsi Jawa Tengah Antara lain menyerupai di bawah ini.
1.Jamasan Pusaka Mangkunegoro:Kab. Wonogiri
2.Padusan Surodilogo:Kab. Wonosobo
3.Sedekah gunung Merapi:Kec. Selo, Kab. boyolali
4.Kirab Pusaka Keraton Surakarta dan Grebeg Maulud:Kota Solo
5.Buka Luwur Sunan Kudus dan Sunan Muria:Kab. Kudus
6.Upacara Adat Mondosiyo:Kab. Karanganyar
7.Upacara Adat Meron dan Khol Syekh Jangkung Landoh Kayen:Kab. Pati
8.Upacara Lopisan:Kota Pekalongan
9.Upacara Ruwatan dan Dugderan:Kota Semarang

10.Upacara pengambilan Api Abadi Mrapen:Kab. Grobogan
6.Suku Jawa Tengah.
 Suku Jawa, Karimun, dan Samin
7.Lagu Daerah Jawa Tengah
Bapak Pucung,Cublak-cublak Suweng,Gambang Suling,Gek Kepriye,Gundhul Pacul,Lir-Ilir,Jamuran,Jaranan,Padhang Wulan.
8.Batik Khas Jawa Tengah
Batik Semarang
Diproduksi para pengrajin di Kampung Batik, Kelurahan Bubakan, Kecamatan Mijen, Semarang, batik Semarang juga mengatakan bermacam-macam motif yang khas dibanding motif-motif batik dari daerah Jawa Tengah lainnya. Pada umumnya batik Semarang berwarna dasar oranye kemerahan karena menerima imbas dari China dan Eropa. Selain itu, motif dasar batik Semarang banyak dipengaruhi budaya China yang pada umumnya banyak menampilkan motif fauna yang lebih menonjol daripada flora. Misalnya merak, kupu-kupu, jago, cendrawasih, burung phoenix, dan sebagainya. Adapun motif Semarang yang menonjolkan ikon kota Semarang menyerupai Tugu Muda, Lawang Sewu, Burung Kuntul, Wisma Perdamaian, dan Gereja Blenduk.
Batik Solo
Kota Solo memang merupakan salah satu tempat wisata belanja kain batik populer di Indonesia. Di sini banyak sekali terdapat pusat kain batik, yang tersohor antara lain daerah Kampung Batik Laweyan dan daerah Kampung Wisata Batik Kauman. Batik Solo populer dengan corak dan pola tradisionalnya batik dalam proses cap maupun dalam batik tulisnya. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pewarnaan masih tetap banyak menggunakan bahan-bahan dalam negeri menyerupai soga Jawa yang sudah populer semenjak dari dahulu. Polanya yang populer antara lain “Sidomukti” dan “Sidoluruh”.Batik Solo mempunyai warna lebih banyak didominasi cokelat soga kekuningan.
Batik Pekalongan
Motif Batik Pekalongan sedikit banyak dipengaruhi pembauran masyarakat Pekalongan, Jawa Tengah, dengan banyak sekali bangsa menyerupai Cina, Belanda, Arab, India, Melayu, dan Jepang pada masa lalu. Beberapa jenis motif batik imbas banyak sekali negara itu kemudian dikenal sebagai identitasbatik Pekalongan. Motif itu yakni batik Jlamprang diilhami India dan Arab, batik Encim dan Klangenan dipengaruhi peranakan Cina, batik Belanda, batik Pagi Sore, dan batik Hokokai yang tumbuh pesat semenjak pendudukan Jepang. Warna cerah dan motif bermacam-macam menciptakan batik Pekalongan maju pesat. Berbeda dengan batik Solo dan Yogyakarta, batik Pekalongan terlihat lebih dinamis karena permainan motif yang lebih bebas. Media kainnya pun bermacam-macam. Tidak hanya katun dan kaos, sutera juga menjadi andalan batik Pekalongan dikala bersaing di luar negeri. Motif Jlamprang, Sekarjagat, atau motif khas lainnya, menjadi berkelas ketika dituangkan dalam materi baku sutera.
Batik Rembang
Batik yang sangat populer di Rembang yakni batik Lasem. Batik Lasem ini pasarannya pun sudah menembus pasar mancanegara
Batik Tegal
Batik Tegalan didominasi warna coklat dan biru. Ciri khas lain batik Tegalan yakni berwarna-warni. Batik tulis Tegal atau Tegalan itu sanggup dikenali dari corak gambar atau motif rengrengan besar atau melebar. Motif ini tak dimiliki daerah lain sehingga tampak eksklusif. Motifnya banyak mangadaptasi dari aneka tumbuhan dan fauna disekitar kehidupan masyarakat di kota Tegal. Motif Grudo (Garuda) dengan warna terang yang mempertontonkan bentuk-bentuk sayap burung garuda dan motif Gribigan dengan bentuk khas anyaman bambu dalam warna agak gelap. Budaya berpakaian batik di Tegal dibawa Raja Amangkurat I (Sunan Amangkurat Mas) dari Keraton Kasunanan Surakarta. Amangkurat yang dikala itu menyusuri pantai utara membawa pengikutnya yang di antaranya perajin batik.

9.Senjata Tradisional Jawa Tengah
Keris yakni senjata tikam golongan belati (berujung runcing dan tajam pada kedua sisinya) dengan banyak fungsi budaya yang dikenal di kawasanNusantara cuilan barat dan tengah. Bentuknya khas dan gampang dibedakan dari senjata tajam lainnya karena tidak simetris di cuilan pangkal yang melebar, seringkali bilahnya berkelok-kelok, dan banyak di antaranya mempunyai pamor (damascene), yaitu terlihat serat-serat lapisan logam cerah pada helai bilah. Jenis senjata tikam yang mempunyai kemiripan dengan keris yakni badik. Senjata tikam lain orisinil Nusantara yakni kerambit. Pada masa kemudian keris berfungsi sebagai senjata dalam duel/peperangan, sekaligus sebagai benda pelengkap sesajian. Pada penggunaan masa kini, keris lebih merupakan benda embel-embel (ageman) dalam berbusana, mempunyai sejumlah simbol budaya, atau menjadi benda koleksi yang dinilai dari segiestetikanya.
Sumber:https://www.karimganas.com//search?q=keris-melayu.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;">
Keris yakni senjata tikam golongan belati (berujung runcing dan tajam pada kedua sisinya) dengan banyak fungsi budaya yang dikenal di kawasanNusantara cuilan barat dan tengah. Bentuknya khas dan gampang dibedakan dari senjata tajam lainnya karena tidak simetris di cuilan pangkal yang melebar, seringkali bilahnya berkelok-kelok, dan banyak di antaranya mempunyai pamor (damascene), yaitu terlihat serat-serat lapisan logam cerah pada helai bilah. Jenis senjata tikam yang mempunyai kemiripan dengan keris yakni badik. Senjata tikam lain orisinil Nusantara yakni kerambit. Pada masa kemudian keris berfungsi sebagai senjata dalam duel/peperangan, sekaligus sebagai benda pelengkap sesajian. Pada penggunaan masa kini, keris lebih merupakan benda embel-embel (ageman) dalam berbusana, mempunyai sejumlah simbol budaya, atau menjadi benda koleksi yang dinilai dari segiestetikanya.
Sumber:
2.D.I.Yogyakarta.
 1.Rumah Adat.


Rumah adat Yogyakarta berjulukan Rumah Bangsal Kencono Keraton. Rumah yang dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono I pada tahun ini merupakan rumah kediaman sekaligus istana bagi raja Ngayogyakartan Hadiningrat dari dulu hingga sekarang. Oleh banyak pihak, Bangsal Kencono Keraton dianggap sebagai bangunan dengan desain terbaik yang sudah menerapkan tata kelola ruang menyerupai rumah modern. Selain itu, rumah adat ini juga punya bermacam-macam keunikan dari sisi arsitekturnya maupun dari sisi nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.
 Adapun untuk dinding dan tiang, rumah adat ini disusun dari kayu-kayuan berkualitas. Pada tiang biasanya dicat berwarna hijau gelap atau hitam menopang di umpak kerikil berwarna hitam keemasan. Sementara pada lantainya terbuat dari materi marmer dan granit yang sengaja dibentuk lebih tinggi dari permukaan tanah disekitarnya. Oleh banyak pihak, Bangsal Kencono Keraton dianggap sebagai bangunan dengan desain terbaik yang sudah menerapkan tata kelola ruang menyerupai rumah modern.

Ciri khas Rumah adat Bangsal Kencono Yogyakarta:

1.Ukuran Rumah:




  karena desainnya menyerupai padepokan serta berfungsi sebagai tempat tinggal keluarga Kerajaan, maka sudah terang bangunan ini mempunyai ukuran yang luas dan besar sesuai dengan kebutuhan fungsinya tersebut.
2.Desain dan Motif Ukiran:



 Dilihat pada halaman utama Bangsal Kencono yang ditanami aneka tumbuhan yang asri serta terdapatnya kandang burung, ini memperlihatkan bahwa Desain bangunan ini mempunyai filosofi yang mengedepankan kecintaan terhadap alam. Sedangkan untuk motifnya sendiri lebih banyak didominasi dengan nuansa kejawen yang berpadu dengan kebudayaan Eropa menyerupai arsitektur Belanda, Portugis dan Cina serta Hindu.
Ukiran kepala Kala di Bangsal Manis
3.Fungsi: 

 fungsi Bangsal Kencono sangatlah kompleks, karena selain sebagai tempat tinggal bagi keluarga kerajaan Yogyakarta, Bangsal ini merupakan tempat atau pusat diselenggarakannya banyak sekali upacara adat maupun ritual keagamaan bagi masyarakat.

Kompleks rumah Bangsal Kencono sendiri tersusun atas beberapa bangunan dengan fungsinya masing-masing. Fungsi-fungsi ruang tersebut diadaptasi dengan kegunaan rumah adat Yogyakarta ini sebagai istana kerajaan. sedikitnya Bangsal Kencono dibagi menjadi 3 bagian, yaitu cuilan depan, cuilan inti, dan cuilan belakang.

1. Bagian Depan 
Bagian depan Rumah adat Yogyakarta ini terdiri dari Gladhag Pangurakan, Alun-Alun Lor, dan Masjid Gedhe Kasultanan.

  •  Gladhag Pangurakan yakni gerbang utama yang digunakan sebagai pintu masuk ke dalam istana. Letaknya berada di utara Keraton dan terdiri dari 2 gerbang, yaitu Gerbang Gladhag dan Gerbang Pangurakan (lebih dalam). Keduanya menggunakan sistem berlapis dan dijaga oleh prajurit kerajaan. 
  •  Alun-alun Lor yakni lapangan berumput di utara Keraton. Di masa silam, cuilan ini digunakan untuk penyelenggaraan bermacam-macam kegiatan dan program kerajaan yang melibatkan rakyat, menyerupai upacara grebeg, upacara sekaten, watangan, rampogan macan, pisowanan ageng, dan lain sebagainya. Sat ini alun alun lor lebih digunakan untuk konser-konser musik, rapat akbar, kampanye, digunakan untuk sepak bola warga sekitar, dan tempat parkir kendaraan. 
  • Kompleks Mesjid Gedhe Kasultanan yakni sebuah masjid kasultanan yang digunakan oleh punggawa kesultanan untuk melaksanakan ibadah sholat. Letaknya berada di barat Alun-alun utara. Masjid ini juga kerap disebut Mesjid Gedhe Kauman. Arsitekturnya berbentuk tajug persegi dengan pintu utama di sisi timur dan utara bangunan.Masjid Gedhe Kauman (Masjid Gedhe Kasultanan Keraton Yogyakarta).


2. Bagian Inti Bagian Inti
Rumah adat Yogyakarta terdiri dari Kompleks Pagelaran, Siti Hinggil Ler, Kamandhungan Lor, Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan Kidul, Siti Hingil Kidul. 

  •  Bangsal Pagelaran yakni bangunan yang khusus digunakan bagi para penggawa kesultanan dikala hendak menghadap sultan ketika upacara resmi. Kini ia lebih digunakan sebagai tempat digelarnya even-even pariwisata, religi, dan lain-lain disamping untuk upacara adat keraton. 
  • Siti Hinggil Ler letaknya berada di selatan kompleks Pagelaran. Secara tradisi bangunan ini digunakan untuk tempat pelaksanaan upacara-upacara resmi kesultanan. 
  •  Kamandhungan Ler terletak di sebelah utara. Bangunan ini digunakan untuk mengadili perkara-perkara berat yang ancamannya eksekusi mati. Pengadilan di bangunan dipimpin sendiri oleh Sultan sebagai hakimnya. Sekarang, Kamandhungan Lor lebih digunakan untuk pelaksanaan upacara adat menyerupai garebeg dan sekaten. 
  • Sri Manganti berada di sebelah selatan kompleks Kamandhungan Ler dengan dihubungkan Regol Sri Manganti. Pada zamannya cuilan ini digunakan sebagai tempat mendapatkan tamu-tamu kerajaan. namun, kini ia lebih digunakan untuk menyimpan pusaka keraton yang berupa alat musik tradisional gamelan dan untuk penyelenggaraan even pariwisata keraton.Bangsal Sri Manganti tempat pertunjukan tari dan seni karawitan gamelan di Kraton Yogyakarta. 
  • Kedhaton merupakan inti dari Keraton seluruhnya. Letaknya berada di pusat kompleks rumah adat Yogyakarta dan terdiri dari 2 bagian, yaitu Pelataran Kedhaton untuk tempat tinggal sultan, Keputren untuk tempat tinggal utama istri (para istri) dan puteri Sultan, serta Kesatriyan untuk tempat tinggal putra-putra Sultan.Koridor di Kedhaton dengan latar belakang Gedhong Jene dan Gedhong Purworetno 
  • Kemagangan dahulu digunakan untuk penerimaan abdi-Dalem, tempat berlatih, tempat ujian, serta tempat apel kesetiaan para abdi-Dalem yang sedang magang. Bangunan ini terletak di tengah halaman di belakang kompleks Kamandhungan. 
  • Siti Hinggil Kidul pada zaman dulu digunakan oleh Sultan untuk menyaksikan sabung insan dengan macan (rampogan), menyaksikan para prajurit yang tengah melaksanakan gladi resik upacara Garebeg, tempat berlatih prajurit perempuan (Langen Kusumo), dan tempat prosesi awal perjalanan upacara pemakaman Sultan yang wafat ke Imogiri. Kini, Siti Hinggil Kidul lebih digunakan untuk pagelaran seni pertunjukan umum , menyerupai pameran, wayang kulit, dan seni tari.
 
3. Bagian Belakang

  • Bagian Belakang Rumah adat Yogyakarta terdiri dari Alun-Alun Kidul dan Plengkung Nirbaya.  Alun-alun Kidul yakni alun-alun yang terletak di cuilan Selatan Keraton. Ia sering pula disebut Pengkeran. 
  •  Plengkung Nirbaya yakni poros utama ujung selatan keraton yang lurus menuju gerbang keluar untuk prosesi pemakaman Sultan yang wafat ke Imogiri
2.Pakaian Adat.
Keunikan baju adat Yogyakarta selain dari bentuk bajunya juga atas penggunaannya. Bahwa masyarakat Yogyakarta mempunyai setidaknya 6 baju adat yang digunakan oleh kaum laki-laki dan perempuan dewasa, remaja dan anak-anak. Selain itu ada baju adat yang khusus digunakan pada program tertentu saja disamping penggunaan baju adat Yogyakarta sehari-hari.

Orang jawa khususnya masyarakat Yogyakarta mempunyai pepatah yang menjadi pemikiran hidup mereka yaitu "ajining diri saka lati, ajining raga saka salira" yang berarti jiwa dan raga harus mendapatkan perhatian yang serius semoga menerima penghormatan dari pihak lain. Oleh alasannya yakni itu diantara ajining raga yakni memperhatikan susila dalam berpakaian.

1. Pakaian Adat Yogyakarta untuk Laki-Laki Dewasa


 
Pada umumnya, pakaian / baju adat laki-laki remaja di Jogja yakni mengenakan surjan serta kebawahan berupa kain batik atau yang disebut jarik. Penggunaan Blankon (penutup kepala) juga menjadi keharusan pada dikala penggunaan pakaian / baju surjan. Selain blankon, lelaki remaja Yogyakarta juga menggunakan ganjal kaki berupa sendal / selop.

2. Pakaian Adat Yogyakarta untuk Wanita Dewasa.


 
Wanita remaja di Yogyakarta menggunakan pakaian adat berupa kebaya dengan bawahan kain batik/jarik. Ciri khas lainnya yakni tatanan rambut yang disanggul / konde. Bahan kain yang digunakan untuk pembuatan pakaian adat yogyakarta antara lain berasal dari materi katun, materi sutera, kain sunduri, nilon, lurik, atau bahan-bahan estetis. Teknik pembuatannya ada yang ditenun, dirajut, dibatik, dan dicelup. Sementara untuk kebaya sendiri kebanyakan menggunakan materi beludru, brokat, atau sutera.

3. Baju Adat Anak Laki-Laki Yogyakarta.



Baju adat Yogyakarta yang diperuntukkan bagi anak laki-laki dikenal dengan nama kencongan. Kencongan yang dikenakan oleh anak laki-laki ini terdiri dari kain batik yang dikenakan dengan baju surjan, lonthong tritik, ikat pinggang berupa kamus songketan dengan cathok terbuat dari suwasa (emas berkadar rendah). Sementara untuk pakaian keseharian terdiri dari baju surjan, kain batik dengan wiru di tengah, lonthong tritik, kamus songketan, timang, serta mengenakan dhestar sebagai tutup kepala.

4. Pakaian Adat Yogyakarta untuk Anak Wanita.


 
Baju adat untuk anak perempuan di Yogyakarta disebut dengan Sabukwala Padintenan.  Baju adat ini berbentuk jarik / kain batik bermotif parang, ceplok, atau gringsing, baju katun, ikat pinggang kamus yang dihiasi dengan hiasan bermotif tumbuhan atau fauna, menggunakan lonthong tritik, serta mengenakan cathok dari perak berbentuk kupu-kupu, burung garuda, atau merak. Ditambahkan pula penggunaan perhiasan dari subang, kalung emas dengan liontin berbentuk mata uang (dinar), gelang berbentuk ular (gligen) atau model sigar penjalin sebagai pelengkap. Bagi yang berambut panjang tatanan rambutnya dibentuk model kone atau disanggul.

Selain baju adat Yogyakarta yang disebutkan diatas, masih terdapat baju adat yang khusus digunakan oleh Keraton. Pakaian Adat Yogyakarta yang khusus digunakan oleh lingkungan keraton terdiri dari pakaian abdi dalem punokawan dan pakaian pejabat keraton / abdi dalem keprajan .



Dalam sistem pemerintahan di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat terdapat abdi dalem yang membantu Sultan dalam kegiatan operasional di Kraton. Abdi dalem di kraton terdiri dari 2 yaitu abdi dalem keprajan dan abdi dalem punokawan. Abdi dalem keprajan yaitu abdi dalam yang bertugas di dinas/instansi pemerintahan sedangkan abdi dalem punokawan bertugas hanya di kraton saja.

Berikut ini klarifikasi mengenai pakaian / baju adat keraton Yogyakarta :

1. Pakaian untuk Abdi Dalem
Abdi dalem yakni seluruh pegawai atau karyawan keraton, yang umumnya tinggal di sekitar keraton. Pakaian mereka terdiri dari dua macam, yakni Sikep Alit dan Langenarjan.

Baju adat yang disebut dengan Sikep Alit terdiri dari kain batik sawitan, baju hitam dari materi laken (dengan kancing dari tembaga atau kuningan yang disepuh emas, berjumlah 7 hingga 9 buah), epilog kepala destar, keris model gayaman (diletakan di peinggang sebelah kanan belakang), selop hitam, topi pet hitam dengan pasmen emas. Pakaian model ini dikenakan untuk keperluan sehari-hari.

Sedangkan Langeran merupakan seperangkat pakaian dengan perlengkapan kain batik, baju bukakan yang yang dibentuk dari materi laken warna hitam, kemeja putih dengan kerah model berdiri, destar sama dengan model pakaian Sikepan Alit, keris model ladrangan atau gayman, digunakan di pinggang sebelah belakang kanan, dasi berwarna putih model kupu-kupu, serta selop berwarna hitam. Jenis pakaian ini pada umumnya dikenakan pada waktu malam untuk menghadiri suatu pertemuan dan jamuan makan malam dalam satu pesta khusus.

2. Pakaian Untuk Pejabat Keraton

Baju adat yang dikenakan oleh pejabat keraton yang sedang dalam kiprah disebut dengan baju ageng.
Secara umum pakaian Ageng merupakan seperangkat pakaian adat yang berupa model jas laken berwarna biru renta dengan kerah model berdiri, serta dengan rangkapan sutera berwarna biru tua, yang panjangnya mencapai bokong, lengkap dengan ornamen kancing-kancing bersepuh emas. Celananya sendiri berwarna hitam. Topi yang dikenakan terbuat dari materi laken berwarna biru tua, dengan model bulat-panjang, dengan tinggi 8 cm.

Namun demikian pakaian adat atau baju ageng ini mempunyai beberapa ornamen yang berbeda berdasarkan jabatan atau fungsi di Keraton, sebagaimana klarifikasi berikut ini :

  • Pakaian bupati bertitel pangeran diberi plisir renda emas lugas lebar 1 cm, dipasang secara teratur di tepi kerah. Pada semua cuilan tepi jas diberi hiasan renda dengan bordiran motif bunga padi. 
  • Pakaian bupati bertitel adipati “song-song jene” (payung kuning) menyerupai pakaian bupati bertitel pangeran, hanya terdapat sedikit hiasan bordiran pada cuilan bawah kerah tidak melingkar secara penuh, tetapi ada jarak sekitar 8 cm. 
  •  Pakaian bupati bertitel adipati menyerupai pakaian adipati “song-song jene”. Perbedaannya terletak pada hiasan bordiran pada cuilan bawah kerah. 
  • Pakaian bupati bertitel temanggung seperti pakaian adipati, dengan perbedaan pada bordiran sebelah bawah, yang panjangnya hanya 2/3 dari ukuran lingkaran jas. 
  • Pakaian patih menyerupai pakaian tumanggung, tetapi bordiran di cuilan depan panjangnya hingga 3 ½ cm hingga cuilan bawah kancing. 
  • Pakaian kepala distrik (wedana) menyerupai pakaian patih, tetapi dengan bordiran cuilan depan dan cuilan belakang dan ujung lengan hanya 2 cm lebarnya dari plisir. 
  •  Pakaian kepala onder distrik (asisten wedana), menyerupai pakaian patih, tetapi bordiran cuilan depan dan cuilan belakang dan ujung lengan hanya 2 cm lebarnya dari plisir. 
  • Pakaian mantri polisi menyerupai pakaian kepala onder distrik, tetapi tana plisir di cuilan depan dan tanpa bordiran bunga padi pada cuilan kerahnya.
4. Tari-tarian Daerah spesial Yogyakarta
  • Tari Serimpi Sangupati, sebuah tarian keraton pada masa kemudian disertai bunyi gamelan dengan gerak tari yang lembut dan menawan hati.



  •  Tari Bedaya, merupakan tarian keraton yang ditarikan oleh 9 putri dengan irama yang lemah gemulai dan lembut.



  • Tari Merak, suatu tari yang mengisahkan keindahan dan kebebasan alam bebas yang dialami burung merak.


  • Tari Beksan Srikandi Suradewati yakni tari tradisional Yogyakarta yang menceritakan wacana peperangan Dewi Suradewati dengan Dewi Srikandhi yang diambil dari serat Mahabaratha


.Tarian ArjunaWiwaha yakni salah satu tarian tradisional yang dipentaskan di Keraton Yogyakarta. Tari Arjuna Wiwaha menceritakan ketika Arjuna yang bertapa di Indrakila mengalami banyak sekali macam godaan.


5. Senjata Tradisional


1. Senjata Tradisional Yogyakarta - Keris


 
Di Yogyakarta pun kerus merupakan senjata tradisional yang paling terkenal. Keris-keris itu diberi pula gelar-gelar kehormatan menyerupai "Kanjeng Kyai Kpek" dan sebagainya. Selain keris terdapat pula tombak sebagai benda pusaka. Benda-benda itu sangat dihormati dan diberi gelar kehormatan. Antara lain "Kajeng Kyai Ageng Plered", Kanjeng Kyai Ageng Baru", "Kanjeng Kyai Gadapan" dan "Kanjeng Ageng Megatruh"."Kyai Plered" mempunyai sejarah tersendiri, karena Untung Suropati berhasil menewaskan opsir Belanda Kapten Tack dengan menggunakan "Kyai Plered" Oleh karena itu, tombak ini dianggap keramat.



Ada pula tombak dan keris yang disebut Tosan Aji. Tosan artinya besi dan Aji artinya dihormati karena bertuah. Benda-benda ini biasanya dirawat baik-baik dan disimpan pada tempat-tempat khusus. Pada saat-saat tertentu benda-benda itu dibersihkan dan dimandikan.

2. Senjata Tradisional Yogyakarta - Tombak



Seperti halnya keris, Yogyakarta juga mempunyai tombak sebagai senjata tradisional yang hampir sama dengan provinsi lainnya di Indonesia. Tombak merupakan alat peperangan dan berburu dengan bentuk yang lebih panjang dari keris karena menggunakan gagang berupa tombak.

3. Senjata Tradisional Yogyakarta - Wedhung.


 
Senjata tradisional dari Yogyakarta selanjutnya disebut dengan wedhung. Wedhung alatnya berbentuk menyerupai pisau tetapi ukurannya lebih besar. Penggunaan wedhung sama dengan keris. Hanya saja, kalau keris biasanya dikenakan/diselipkan di belakang pinggang, namun senjata wedhung dan patrem digunakan di muka. Walaupun, ada juga yang menggunakan wedhung di samping badan.
 

6. Upacara Adat dan Kesenian Daerah spesial Yogyakarta
A. Sendratari Ramayana.


 
Sendratari Ramayana merupakan satu kesenian yang paling populer di Yogyakarata, biasanya turis mancanegara sangat menyukai pertunjukan ini. Biasanya sendratari ini dipertunjukan di Candi Prambanan.
Sendratari ini menceritakan wacana perlawanan antara kebijaksanaan perekrti yang baik yang ada dalam diri Sri Rama (dari negara Ayodhiyapala) melawan sifat jahat yang ada dalam diri Rahwana (maharaja angkara marah dari negara Alengka). Sendratari ini mempunyai empat episode berbeda disetiap pertunjukannya diantaranya, Hilangnya Dewi Shinta, Hanoman Duta, Kombokarno Leno, dan Api Suci. Sendratari ini dipentaskan setiap bulan Mei hingga Oktober.

B. Upacara Grebeg Maulud.


 
Upacara Grebeg Maulud merupakan puncak dari upacara kelahiran Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan pada 12 Maulud, sesudah esoknya gamelan Kyai Nogowilogo dan Kyai Gunturmadu dimasukkan kedalam Keraton yang disebut dengan “Bendhol Songsong”. Sebagai puncak drai program ini yakni membawa gunungan ke Masjid Agung dan membagi-bagikannya kepada masyarakat sesudah didoakan. Lalu gunungan ini yang akan ditanam di area pertanian semoga menjadi subur.

C. Upacara Labuhan Pantai


 
Upacara ini ditujukan untuk Ratu Laut Selatan dengan mempersembahkan baju, alat-alat rias perempuan serta bunga-bungaan untuk sang Ratu. Untuk permohonan kesejahteraan kepada Ratu Kidul. Sedangkan banyak sekali pakaian bekas, potongan kuku serta potongan rambut Sri Sultan ditanam di Sengker (suatu areal di Pantai Parangkusumo).

D. Upacara Sekaten


 
Acara ini merupakan program tradisi jawa dalam memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW. Masyarakat Yogya beranggapan apabila ikut serta dalam peringatan ini akan menerima imbalan dari Yang Maha Kuasa yaitu infinit muda, dan sebagai “Srono” atau syaratnya, mereka harus mengunyah sirih di halaman Masjid Agung dari awal program dimulai.

E. Seni Wayang Jawa.
Salah satu ciri khas kebudayaan Yogyakarta khususnya Jawa yakni seni wayang. Kesenian wayang merupakan kreasi budaya masyarakat Jawa Tengah yang dalam setiap ceritanya mempunyai filosofi akan kehidupan masyarakat Jawa, menyerupai kisah-kisah kepahlawanan, raja-raja terdahulu atau mitologi masyarakat Jawa.



Masyarakat Jawa sangat menggemari wayang dikarenakan setiap dongeng yang terdapat dalam kesenian wayang ini sanggup dijadikan pemikiran masyarakat dalam menjaga kebudayaan Jawa sendiri. Ada sekitar 40 jenis wayang di Jawa diantaranya yakni Wayang Beber, Wayang Klintik, Wayang Kulit, Wayang Krucil, dan Wayang Golek. Disetiap pementasan wayang selalu dipimpin oleh seorang Dalang yang memahami alur dongeng dalam pewayangan. Pertunjukan wayang ini selalu diiringi oleh musik gamelan.

F. Upacara Siraman Pusaka.


 
Upacara Siraman Pusaka ini dilakukan setiap Selasa atau Jumat kliwon pada bulan Jawa Sura, keraton mengadakan program ini untuk membersihkan benda-benda keramat milik keraton serta kereta-kereta istana. Sedangkan pada hari Jumat kliwon di makam raja-raja di daerah Imogiri dilakukan upacara pengurasan dan pembersihan air dalam guci-guci atau jambangan yang disebut Enceh. Konon, berdasarkan masyarakat Jawa apabila meminum air ini akan jauh dari malapetaka atau marabahaya, dihindrakan dari penyakit, serta infinit muda.
7. Suku:Jawa
8. Bahasa Daerah:Jawa
9. Lagu Daerah:
Lagu daerah Yogyakarta hampir tidak sanggup dibedakan dengan lagu daerah Jawa Tengah, karena bahasanya memang sama. Berikut lagu-lagu daerah Yogyakarta, yang mungkin juga merupakan lagu daerah Jawa Tengah.

Yaitu Suwe Ora Jamu,Pitik Tukung, Kidang Talun,Menthok- menthok, Kupu Kuwi, Jamuran,Caping Gunung, Gethu,Gek Kepriy, Sinom. Te Kate Dipana, Ande-ande Lumut
 Sumber :
Keris yakni senjata tikam golongan belati (berujung runcing dan tajam pada kedua sisinya) dengan banyak fungsi budaya yang dikenal di kawasanNusantara cuilan barat dan tengah. Bentuknya khas dan gampang dibedakan dari senjata tajam lainnya karena tidak simetris di cuilan pangkal yang melebar, seringkali bilahnya berkelok-kelok, dan banyak di antaranya mempunyai pamor (damascene), yaitu terlihat serat-serat lapisan logam cerah pada helai bilah. Jenis senjata tikam yang mempunyai kemiripan dengan keris yakni badik. Senjata tikam lain orisinil Nusantara yakni kerambit. Pada masa kemudian keris berfungsi sebagai senjata dalam duel/peperangan, sekaligus sebagai benda pelengkap sesajian. Pada penggunaan masa kini, keris lebih merupakan benda embel-embel (ageman) dalam berbusana, mempunyai sejumlah simbol budaya, atau menjadi benda koleksi yang dinilai dari segiestetikanya.
Sumber:https://www.karimganas.com//search?q=keris-melayu.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;">
Keris yakni senjata tikam golongan belati (berujung runcing dan tajam pada kedua sisinya) dengan banyak fungsi budaya yang dikenal di kawasanNusantara cuilan barat dan tengah. Bentuknya khas dan gampang dibedakan dari senjata tajam lainnya karena tidak simetris di cuilan pangkal yang melebar, seringkali bilahnya berkelok-kelok, dan banyak di antaranya mempunyai pamor (damascene), yaitu terlihat serat-serat lapisan logam cerah pada helai bilah. Jenis senjata tikam yang mempunyai kemiripan dengan keris yakni badik. Senjata tikam lain orisinil Nusantara yakni kerambit. Pada masa kemudian keris berfungsi sebagai senjata dalam duel/peperangan, sekaligus sebagai benda pelengkap sesajian. Pada penggunaan masa kini, keris lebih merupakan benda embel-embel (ageman) dalam berbusana, mempunyai sejumlah simbol budaya, atau menjadi benda koleksi yang dinilai dari segiestetikanya.
Sumber:

Belum ada Komentar untuk "Budaya Jawa Tengah Dan D.I Yogyakarta."

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel