Budaya Jawa Timur

1. Rumah Adat Jawa Timur


Rumah adat Jawa Timur Joglo dasar filosofi dan arsitekturnya sama dengan rumah adat di Jawa Tengah Joglo. Rumah adat Joglo di Jawa Timur masih sanggup kita temui banyak di daerah Ponorogo. Pengaruh Agama Islam yang berbaur dengan kepercayaan animisme, agama Hindu dan Budha masih mengakar kuat dan itu sangat besar lengan berkuasa dalam arsitekturnya yang kentara dengan filsafat
sikretismenya. Rumah Joglo umumnya terbuat dari kayu Jati. Sebutan Joglo mengacu pada bentuk atapnya, mengambil stilasi bentuk sebuah gunung. Stilasi bentuk gunung bertujuan untuk pengambilan filosofi yang terkandung di dalamnya dan diberi nama atap Tajug, tapi untuk rumahhunian atau sebagai tempat tinggal, atapnya terdiri dari 2 tajug yang disebut atap Joglo/Juglo / Tajug Loro.

Dalam kehidupan orang Jawa gunung merupakan sesuatu yang tinggi dan disakralkan dan banyak dituangkan kedalam banyak sekali simbol, khususnya untuk simbol-simbol yang berkenaan dengan sesuatu yang magis atau mistis. Hal ini lantaran adanya imbas kuat keyakinan bahwa gunung atau tempat yang tinggi yakni tempat yang dianggap suci dan tempat tinggal para Dewa.
Pengaruh kepercayaan animisme, Hindu dan Budha masih sangat kental menghipnotis bentuk dan tata ruang rumah Joglo tersebut contohnya: Dalam rumah adat Joglo, umumnya sebelum memasuki ruang induk kita akan melewati sebuah pintu yang mempunyai hiasan  sulur gelung ataumakara. Hiasan ini ditujukan untuk tolak balak, menolak maksud – maksud jahat dari luar hal ini masih dipengaruhi oleh kepercayaan animisme.

Kamar tengah merupakan kamar sakral. Dalam kamar ini pemiliki rumah biasanya menyediakan tempat tisur atau katil yang dilengkapi dengan bantal guling, cermin dan sisir dari tanduk. Umumnya juga dilengkapi dengan lampu yang menyala siang dan malam yang berfungsi sebagai pelita, serta tabrakan yang mempunyai makna sebagai pendidikan rohani, hal ini masih dalam imbas pedoman Hindu dan Budha. Untuk rumah Joglo yang terletak di pesisir pantai utara menyerupai Tuban, Gresik dan Lamongan unsur-unsur di atas di tiadakan lantaran imbas Islam masuk. Melalui akultrasi budaya jawa yang harmoni, penyebaran Islam berbaur serasi dengan budaya dan adat istiadat kepercayaan animisme, Hindu dan Budha. Islam pun mulai menjalar ke banyak sekali daerah di Jawa Timur, menyerupai di Madiun, Ngawi, Magetan, Ponorogo, Pacitan, Kediri, Tulungagung, Blitar, Trenggalek, dan sebagian Bojonegoro, sedangkan kota-kota di pecahan barat Jawa timur mempunyai kemiripan rumah adat Jawa Tengah, terutama Surakarta dan Yogyakarta yang disebut sebagai kota sentra peradaban Jawa.

Rumah Joglo juga menyiratkan kepercayaan kejawen masyarakat Jawa yang berdasarkan sinkretisme. Keharmonisan kekerabatan antara insan dan sesamanya (“kawulo” dan “gusti”), serta kekerabatan antara insan dengan lingkungan alam di sekitarnya (“microcosmos” dan “macrocosmos”), tecermin pada tata bangunan yang menyusun rumah joglo. Baik itu pada pondasi, jumlah saka guru (tiang utama), bebatur (tanah yang diratakan dan lebih tinggi dari tanah disekelilingnya), dan bermacam-macam ornamen penyusun rumah joglo.
Rumah Joglo mempunyai banyak jenis seperti

    Joglo Lawakan
    Joglo Sinom
    Joglo Jompongan
    Joglo Pangrawit
    Joglo Mangkurat

Arsitektur rumah Joglo menyiratkan pesan-pesan kehidupan insan terhadap kebutuhan “papan”. Bahwa rumah bukankah sekadar tempat berteduh, tapi ia juga merupakan “perluasan” dari diri insan itu sendiri. Berbaur harmoni dengan alam di sekitarnya. Rumah Joglo pada umumnya sama pada bentuk global dan tata ruangnya.
2. Pakaian Adat Jawa Timur




Pakaian Adat Jawa Timur Jika kita lihat sekilas, pakaian ini sebetulnya mempunyai beberapa kesamaan dengan pakaian adat yang biasa dikenakan orang-orang Jawa Tengah ( Baju Adat Jawa Tengah ). Hal ini disebabkan juga lantaran masyarakat Jawa Timur tersebut secara historis memang memperoleh banyak sekali imbas kebudayaan dari Jawa Tengah yang berkembang lebih lebih banyak didominasi pada masa silam lalu. Akan tetapi, meskipun mempunyai banyak sekali kemiripan, ada juga beberapa hal yang membedakan kedua jenis pakaian adat tersebut. Pertama, mungkin dari segi coraknya. Corak pakaian adat Jawa Tengah ini yang banyak melambangkan nilai-nilai segi kesopanan dan tatakrama, namun sangat kontras jikalau dibandingkan dengan baju adat jawa timur yang lebih menonjolkan kepada nilai-nilai ketegasan dan tetap terlihat sederhana juga menjunjung tinggi pada etika.

Kedua, di lihat dari segi perlengkapan pakaian yang dipakai. Baju Adat Jawa Timur dikenakan bersama dengan beberapa aksesoris yang unik, menyerupai tongkat (sebum dhungket), penutup  kepala (odheng),  arloji rantai, serta selendang kain yang diselempangkan pada bahu. Terlepas dari kemiripan dan beberapa perbedaan tersebut, baju atau pakaian adat Jawa Timur sendiri dibedakan menjadi 2 macam, antara lain baju pesaan dan baju mantenan. Apa dan bagaimana baju mantenan tersebut dan baju pesaan.
1. Baju Mantenan
 sesuaikan dengan namanya, baju ini pada umumnya hanya dikenakan pada dikala resepsi ijab kabul adat Jawa Timuran oleh para mempelai. Baik itu untuk mempelai laki-laki maupun untuk mempelai wanitanya, baju mantenan ini juga mempunyai corak warna yang sama, yaitu warna hitam sebagai warna dasar dan warna merah untuk motif hiasannya. Untuk penggunaan pakaian ini juga dilengkapi epilog kepala dan juga rangkaian bunga melati yang dikalungkan di pecahan leher untuk mempelai prianya dan digantungkan pada sanggul untuk mempelai wanita. Gelang tangan dan sabuk emas  juga digunakan sebagai pelengkap bersama dengan terompah, selendang kain yang diselempangkan pada bahu, juga aksesoris tambahan lainnya. Secara sederhana, kenampakan dari baju mantenan ini sanggup kita lihat pada gambar di bawah ini.





2. Baju Pesaan
Baju pesaan khas Madura Baju Adat Jawa Timur Baju pesaan ini sebetulnya merupakan baju keseharian yang biasanya dikenakan hanya oleh orang-orang Madura dan sebagian pesisir utara Jawa Timur. Kendati demikian, lantaran keunikan dan ciri khas yang dimilikinya, baju ini justru menjadi ikon utama yang mewakili daerah timur pulau jawa di kancah Nasional.






3. Baju Cak dan Baju Ning Jawa Timur, Surabaya
Setiap tahun diadakan sebuah kontes pemilihan bujang dan gadis yang berjulukan Kontes Cak dan Ning. Dalam kontes tersebut, para bujang dan gadis biasanya mengenakan pakaian khas dari Surabaya yang sempat tenar pada tempo dulu dan masih kerap digunakan hingga dikala ini juga dalam acara-acara besar di kantor dan kediaman walikota atau di balai kota. Baju Adat Jawa Timur Cak digunakan oleh para prianya. Pakaian ini pun berupa perpaduan beskap atau jas tutup untuk atasan, jarik sebagai bawahan, kuku macan sebagai hiasan yang digantung pada saku beskap, terompah, dan sapu tangan merah.  Sementara itu pakaian adat Jawa Timur Ning dikenakan oleh para wanitanya. Pakaian ini berupa perpaduan dari kebaya sebagai atasan, jarik untuk bawahan, kerudung lengkap dengan renda, dan bermacam-macam aksesoris tambahan lainnya menyerupai anting, selop, selendang, dan gelang.


3. Tari-tarian Daerah Jawa Timur
1. Tari Reog Ponorogo



Tari Reog berasal dari Ponorogo, Jawa Timur. Biasanya dibawakan oleh 6-8 laki-laki dan 6-8 wanita. Tarian ini melewati beberapa sesi, sehingga mempunyai durasi yang terbilang panjang. Tapi kalau kau suka dengan seni, tidak akan bosen deh melihatnya.Menurut sejarah, tarian ini diambil dari perjalanan Prabu Kelana Sewandana yang sedang mencari pujaan hatinya, perjalanan dia ditemani oleh prajurit dan patihnya yaitu Bujangganong. Hingga hasilnya bertemulah ia dengan Dewi Sanggalangit seorang putri Kediri. Namun, ia akan mendapatkan cintanya bila Sang Prabu berhasil membuat sebuah kesenian.
Disinilah mulai terciptanya Tari Reog demi menerangkan cinta Prabu Kelana pada Sang Putri. Ia meminta bala pinjaman prajurit-prajuritnya untuk mengisikan tarian yang diciptakannya.
Terciptalah 5 komponen penari yang mengisi Tari Reog Ponorogo, yaitu :
  1.     Prabu Kelono Sewandono
  2.     Patih Bujangganong
  3.     Jathil
  4.     Warok
  5.     Pembarong

2. Tari Gandrung Banyuwangi


Tarian tradisional selanjutnya berjulukan Tari Gandrung Banyuwangi berasal dari Banyuwangi, kata gandrung melambangan panggilan Dewi Sri, dimana pada zaman itu Dewi Sri dianggap Dewi Padi yang sanggup memberi kesuburan dan kesejahteraan bagi masyarakat.
Tarian ini juga satu genre dengan tarian Ketuk Tilu. Menurut sejarah, tarian ini muncul pada dikala dibangunnya ibu kota Balambangan, hingga hasilnya salah satu seniman menulis suatu makalah wacana seorang lelaki yang keliling ke pedasaan dengan beberapa pemain musiknya.

Cerita itu menjadi dongeng rakyat yang dibawa secara turun-temurun. Hingga hasilnya terciptalah Tari Gandrung Banyuwangi, dikala itu masyarakat yang menikmatinya akan memberi beberapa barang menyerupai beras, pangan atau barang lainnya sebagai imbalan.Kostum yang digunakan yakni baju dari beludru, beserta atributnya. Di pecahan kepala, menggunakan mahkota berjulukan omprok, untuk pecahan kakinya menggunakan samping batik. Dan musik pengiringnya yakni kempul atau gong.

3.Tari Wayang Topeng



Jika di Jawa Barat ada tari topeng, di Jawa Timur pun sama. Kota Malang yakni asal muasalnya lahir Tari Wayang Topeng, tidak diherankan lagi mengapa disebut tari wayang topeng, hal ini lantaran penari menggunakan pakaian menyerupai wayang kulit.Dulunya tari wayang topeng diadakan hanya sebagai pertunjukan ritual saja.
Topeng disini dilambangkan sebagai rasa apresiasi pada wajah nenek moyang. Dimana dikala itu topeng mempunyai arti menghargai roh leluhur. Tidak heran, bila tarian ini sedikit bernuasana mistik.
Sejarah singkatnya tari wayang topeng digunakan dikala agama Islam memasuki wilayah Jawa, dan tarian ini dijadikan salah satu trik untuk merebut hati orang Jawa yang dikala itu agama Hindu masih kental.
Ternyata beda dengan Tari Topeng asal Jawa Barat yang menggunakan background sejarah wayang golek. Tari topeng Jawa Timur ini mengisahkan dongeng Ramayana dan Panji.Musik pengiring yang digunakan yakni bonang, gong, gamelan dan kendang.

4. Tari Jaranan Buto


Tarian traidisional berikut berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur. Kata ‘buto’ mengandung arti raksasa. Jadi, tari jaranan buto mengandung arti kuda lumping raksasa. Tarian ini biasanya dimainkan oleh 16-20 orang. Hanya saja, tarian ini pun hampir musnah, biasanya tarian ini dipentaskan ketika ada program khinatan dan pernikahan. Penarinya pun rata-rata laki-laki.Bisa dilihat pada gambar, mereka bermake up tebal dan sangat menyeramkan. Konon katanya lantaran Jaranan Buto diambil dari Menak Jinggo. Sosok insan yang berwajah raksasa.

Gerakannya pun terkadang ekstrim, ada akting bertengkar. Hati-hatilah kau bila ingin mengikuti tarian ini, tidak asing bila di simpulan program salah satu pemain akan kesurupan.
Musik yang digunakan yakni kendang, dua gong besar, kecer, dua bonang, dan kempul terompet.
5.Tari Remo

Tarian tradisional selanjutnya yakni Tari Remo. Zaman dulu tari remo menjadi salah satu tarian untuk menyambut tamu agung.
Tarian ini diciptakan oleh pengamen dikala tempo dulu. Pada masa itu, memang hampir kebanyakan orang diharuskan untuk sanggup menari. Bahkan pengamen pun sanggup menari.
Biasanya tarian ini ditarikan oleh laki-laki, namun seiring dengan zaman tarian ini boleh dibawa oleh perempuan hingga dimunculkan nama tarian Tari Remo Putri. Dulunya, tarian ini sebagai pembuka pertunjukan ludruk. Seiring dengan zaman tarian ini dipentaskan setiap ada pertunjukan kesenian.
Busana yang digunakan pun berbeda-beda yaitu busana gaya Surabayan, gaya malangan, remo putri, jombangan, dan sawunggaling. Musik pengiringnya yakni gamelan.

4. Senjata Tradisional Jawa Timur

Senjata tradisional merupakan produk budaya yang lekat hubungannya dengan suatu masyarakat. Selain digunakan untuk berlindung dari serangan musuh, senjata tradisional juga digunakan dalam kegiatan berladang dan berburu. Lebih dari fungsinya, senjata tradisional sekarang menjadi identitas suatu bangsa yang turut memperkaya khazanah kebudayaan nusantara.

1. Keris Jawa Timur

Awal mula munculnya senjata keris tidak ada kepastian. Namun pada jaman Pajajaran dan Majapahit (abad XI), senjata Keris sudah di kenal di kalangan masyarakat luas, khususnya di Pulau Jawa dan Madura. Dan sumber buku Babad di sebutkan bahwa pada jaman sudah ada beberapa orang Empu di Pulau Jawa. Di Pulau Madura, berdasarkan banyak sekali informasi, banyak di jumpai Empu. Nama Empu yang di populerkan di Pulau Madura: Empu Keleng, Empu Pandhewu, Empu Luwih, dan Empu Sanung. Senjata keris ini berfungsi untuk alat menyerang, membela diri dan berburu.

Keris yakni Senjata tikam yang ujungnya runcing dan pada kedua belah sisinya bermata tajam. Keris yakni salah satu senjata tradisional yang terdapat di Desa Lenteng Barat, Kec. Lenteng, Kab. Sumenep, Jawa Timur. Mengenai kapan munculnya senjata tradisional tersebut, tidak ada bukti jelas. Namun, sejata tradisional Keris yang ada di Pulau Jawa. Keris merupakan senjata tradisional yang di kategorikan untuk menyerang dan membela diri. Proses pembuatan keris menggunakan hukum tertentu. dalam persiapan, di pilih hari Jumat Pon, Sabtu Wage atau Ahad Kliwon. Pantangannya yakni tiga hari sehabis kelahiran orang yang membuat senjata merupakan hari naas. Bulan Muharam hingga Maulud juga jadi pantangan. Pembuatan Keris juga di lengkapi dengan sesaji. Keris mempunyai fungsi sosial sebagai alat untuk menyerang, membela diri, dan berburu.

2. Clurit Kembang Turi

Bagi masyarakat Madura, Celurit tak sanggup dipisahkan dari budaya dan tradisi mereka hingga dikala ini. Senjata tradisional ini mempunyai bilahnya berbentuk melengkung bentuk bilah inilah yang menjadi ciri khasnya. Celurit menjadi senjata khas suku Madura yang biasa digunakan sebagai senjata carok.

Senjata ini melegenda sebagai senjata yang biasa digunakan oleh tokoh berjulukan Sakera. Masyarakat Madura biasanya memasukkan khodam, sejenis makhluk gaib yang menempati suatu benda, ke dalam celurit dengan cara merapalkan doa-doa sebelum carok. Walaupun demikian, intinya fungsi utama senjata ini merupakan salahsatu dari alat pertanian.
3.Gagang (pegangan)

Senjata (alat) ini berfungsi sebagai alat untuk membantu kegiatan sehari-hari bagi suku Using di Banyuwangi dan untuk menjaga diri dari banyak sekali ancaman. Senjata ini dilengkapi dengan sarung pelindung.

Ukurannya
1. Lengkap berserta sarung pelindungnya yakni 46,5cm
2. Pengangan 18cm
3. Sarung 29cm
4. Hiasan sarung 10cm

5.Suku bangsa
Mayoritas penduduk Jawa Timur yakni Suku Jawa, namun demikian, etnisitas di Jawa Timur lebih heterogen. Suku Jawa menyebar hampir di seluruh wilayah Jawa Timur daratan. Suku Madura mendiami di Pulau Madura, dan daerah Tapal Kuda (Jawa Timur pecahan timur), terutama di daerah pesisir utara, dan selatan. Di sejumlah daerah Tapal Kuda, Suku Madura bahkan merupakan mayoritas. Hampir di seluruh kota di Jawa Timur terdapat minoritas Suku Madura, umumnya mereka bekerja di sektor informal.

Suku Bawean mendiami Pulau Bawean di pecahan utara Kabupaten Gresik. Suku Tengger, konon yakni keturunan pelarian Kerajaan Majapahit, tersebar di Pegunungan Tengger, dan sekitarnya. Suku Osing tinggal di sebagian wilayah Kabupaten Banyuwangi. Orang Samin tinggal di sebagian pedalaman Kabupaten Bojonegoro.

Selain penduduk asli, Jawa Timur juga merupakan tempat tinggal bagi para pendatang. Orang Tionghoa yakni minoritas yang cukup signifikan, dan mayoritas di beberapa tempat, diikuti dengan Arab; mereka umumnya tinggal di daerah perkotaan. Suku Bali juga tinggal di sejumlah desa di Kabupaten Banyuwangi. Dewasa ini banyak ekspatriat tinggal di Jawa Timur, terutama di Surabaya, dan sejumlah daerah industri lainnya.
  •     Suku Jawa
  •     Suku Madura
  •     Suku Osing
  •     Tionghoa
  •     Suku Bawean
  •     Suku Sunda
  •     Suku Tengger
  •     Arab
  •     Suku Bugis
  •     Suku Banjar
  •     Suku Betawi
  •     Suku Minangkabau
  •     Suku Banten
6.Batik

Batik Jawa Timur Jauh Lebih Tua daripada Usia Batik Jateng, Batik masih sering diidentikkan dengan masyarakat Jawa Tengah. Yang sesungguhnya, batik Jawa Timur Jebih kaya corak dan usianya jauh lebih tua. Sebuah pekerjaan rumah bagi penggiat batik Jatim untuk lebih mengenalkan ciri khas mereka di mata publik. Batik Jawa Timur Warna dan garis tegas Tiap 38 Kabupaten/Kota punya motif khas Tidak mempunyai pakem alias bebas Mayoritas gambar motif berukuran besar-besar. Banyak mewakili alam (hewan/tumbuhan). Batik Daerah Lain Warna dan garis lebih halus Ciri khas dan motif terbatas Terikat pakem khusus Motif teratur sesuai dengan pakem Umumnya menggunakan gambar bendo atau simbol-simbol.
  • Batik Magetan


Motif kontemporer pun sanggup menjadi batik yang laris di Jatim. Berbeda dengan batik Jawa Tengah yang cenderung sa¬ngat halus dan terstruktur.

  • Batik Madura


Ternyata, Pulau Madura tak hanya tersohor dengan karapan sapi dan garamnya. Wilayah yang termasuk Provinsi Jawa Timur ini juga terkenal sebagai penghasil batik. Bahkan, produk batiknya mempunyai ragam warna dan motif yang tidak kalah dengan produksi daerah lain. Batik Madura menggunakan pewarna alami sehingga warnanya cukup mencolok. Selain warna yang mencolok, menyerupai kuning, merah atau hijau, batik Madura juga mempunyai perbendaharaan motif yang beragam. Misalnya, pucuk tombak, belah ketupat, dan rajut. Bahkan, ada sejumlah motif mengangkat aneka tanaman dan fauna yang ada dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Madura.
  • Batik Pacitan



Batik tulis khas pacitan tergolong jenis klasik menyerupai Motif Sidomulyo, Sekar Jagat, Semen Romodan Kembang-Kembang.
  • Batik Sidoarjo

Sidoarjo juga punya Kampoeng batik dengan nama Batik Jetis, Kampoeng ini memproduksi batik tulis dengan motif yang khas dari Sidoarjo. Motif kain batik asal Jetis didominasi tanaman dan fauna khas Sidoarjo yang mempunyai warna-warna cerah, merah, hijau, kuning, dan hitam. Motifnya juga motif kuno, tidak banyak perubahan dari motif yang dulu digunakan oleh para pendahulu.
  • Batik Tuban

Batik ini kemudian disebut Batik Gedog. Dalam buku Batik Fabled Cloth of Java karangan Inger McCabe Elliot tertulis, bahwasanya batik Tuban menyerupai dengan batik Cirebon pada pertengahan masa ke-19. Kemiripan ini terjadi pada penggunaan benang pintal dan penggunaan warna merah dan biru pada proses pencelupan.
  • Batik Banyuwangi

Semua nama motif dari batik orisinil Bumi blambangan banyak dipengaruhi oleh kondisi alam. Misalnya, Batik Gajah Oling yang cukup dikenal itu, motifnya berupa binatang menyerupai belut yang ukurannya cukup besar. Motif Sembruk Cacing juga motifnya menyerupai cacing dan motif Gedegan juga kayak gedeg ( anyaman bamboo ).
  • Batik Mojokerto

Batik Mojokerto merupakan sebuah budaya kerajinan batik yang sejarahnya berkembang dengan masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Keunikan batik Mojokerto yakni pada nama-nama coraknya yang sangat asing dan asing di indera pendengaran sebagian orang. Misalnya gedeg rubuh, matahari, mrico bolong, pring sedapur, grinsing, atau surya majapait. Batik Mojokerto sekarang mempunyai 6 motif yang telah dipatenkan, yakni pring sedapur, mrico bolong, sisik gringsing, koro renteng, rawan indek dan matahari.
Desain batik itu Mojokerto mengambil corak alam sekitar kehidupan manusia. Misalnya motif pring sedapur merupakan gambar rumpun bambu dengan daun-daun menjuntai. Ada burung merak bertengger. Warna dasarnya putih dengan batang bambu warna biru. Sedangkan daunnya warna biru dan hitam. Demikian pula motif gedeg rubuh, coraknya menyerupai mirip anyaman bambu yang miring. Kalau mrico bolong, motifnya berupa bulatan merica berlubang.

  • Batik Ponorogo

Batik Ponorogo terkenal dengan motif meraknya yang diilhami dari kesenian reog yang menjadi ikon di daerah ini. Hingga sekarang paling tidak sudah 25 corak batik Ponorogo diciptakan. Motif batik lainnya antara lain merak tarung, merak romantis, sekar jagad, dan batik reog.
Konsep reog benar2 menjadi inspirasi bagi pembuatan desain Batik Ponorogo. Seperti motif burung Merak, menyerupai punggung merak reog Ponorogo atau bahkan konsep punggung reog ponorogo itu sendiri.



  • Batik Tulungagung

Pesona batik Tulungagung terletak pada tingkat keberanian memadukan warna untuk menghasilkan batik dengan warna yang berbeda. Dari yang kebanyakan berwarna coklat maupun hitam, sekarang lebih berani dengan memainkan warna yang lebih cerah. Beberapa motif yang paling banyak dibentuk di Tulungagung antara lain “buket ceprik gringsing”,”buket ceprik pacit ungker”, serta “lereng buket”. Ketiga motif tersebut merupakan satu di antara 86 motif yang dimiliki para perajin di Tulungagung.

7. Alat Musik Tradisional Jawa Timur
Alat musik tradisional daerah Jawa Timur pada umumnya sama dengan alat-alat musik tradisional/ daerah yang terdapat di Jawa Tengah, yaitu gamelan. Jenis-jenis alat musik lain juga terdapat di Provinsi Jawa Timur. Alat musik ini digunakan untuk mengiringi banyak sekali jenis kesenian. Berikut beberapa jenis musik beserta alat musik yang digunakan untuk mengiringi. Beberapa seni musik tradisional di Provinsi Jawa Timur sebagai berikut.

  •     Gamelan merupakan jenis musik tradisional Jawa yang terdiri atas beberapa instrumen (alat) musik, menyerupai bonang, saron, kendang, gong, gambang, gender, demung, ketuk, dan rebab. Seperangkat musik gamelan yang terdiri atas gamelan laras slendro dan laras pelog disebut gamelan sepangkon.Pengiring Reog yakni jenis musik untuk mengiringi kesenian Reog Ponorogo yang terdiri atas terompet, gong, dan kendang.
  •  Patrol merupakan jenis musik yang peralatannya menggunakan kentongan bambu atau kayu yang dibunyikan dengan irama teratur sehingga menghasiikan bunyi yang lezat didengar. Pada awalnya digunakan untuk kegiatan ronda malam (siskamling), kemudian berubah menjadi musik yang diperdengarkan pada malam hari di bulan bulan mulia untuk membangunkan orang sahur.
  •   Gedokan termasuk jenis musik tradisional dari daerah Kabupaten Banyuwangi yang dipergelarkan pada waktu orang punya hajatan. Alat musiknya terdiri atas lumpang (lesung), alu (antan), dan dua potong besi.
  •  Bordah merupakan jenis musik tradisional dari daerah Kabupaten Banyuwangi yang bernapaskan Islam. Alat musiknya terdiri atas terbangan atau rebana dalam banyak sekali ukuran. Rebana tersebut dimainkan untuk mengiringi lagu-lagu kasidahan.
  •  Terbang merupakan jenis musik tradisional dari daerah Kabupaten Banyuwangi yang bernapaskan Islam. Alat musiknya terdiri atas rebana (sebagai alat musik pokok) yang dilengkapi dengan kendang, ketuk, jidor (bedhug) dengan tiga macam ukuran, gong, dan organ.
  •   Angklung yakni musik tradisional dari daerah Kabupaten Banyuwangi yang dimainkan oleh 12-14 orang dengan peralatan angklung, saron, kendang, dan gong. Jenis musik angklung ada empat macam, yaitu angklung caruk, angklung tetak, angklung paglak, dan angklung blambangan.
8.Lagu Daerah Jawa Timur
Istilah lagu daerah ada yang menyebutnya sebagai lagu rakyat. Lagu-lagu derah Jawa Timur antara lain, Kerraban Sape, Bapak Tane (Pajjer Laggu), Lir-Saailir, Dulkanaa’ Dulkannong, Gai’ Bintang, Bing Ana’, Grimis-Grimis, Jembatan Merah, Surabaya Oh Surabaya, dan Rek Ayo Rek. Selain lagu daerah, berapa suku bangsa di Provinsi Jawa Timur juga mengenal tembang yang terdiri atas:

    Tembang Gedhe (Sekar Ageng), menyerupai Kusumastuti, Pamularsih, Maduretna, Lebdajiwa, Kusumawicitra, Sudiradraka, Basanta, Mangga Iagita, Sikarini, Nagabanda, Banjarsari, Tepikawuri, Bremarakrasa, Kuswarini, Sarapada, Tebukasol, Madayanti, Sudirawicitra, Meraknguwun, dan Candrakusurna.

    Tembang Tengahan (Sekar Tengahan), menyerupai Balabak, Wirangrong, Jurudemung, Dudukwuluh, Pangajabsih, Lontang, Palugon, Pranasrnara, Rangsang Tuban, Sardhula Kawekas, Kenya Kedhiri, Sari Mulat, dan Rarabentrok.
    

Sumber:https://www.karimganas.com//search?q=61500-keris.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;">

Awal mula munculnya senjata keris tidak ada kepastian. Namun pada jaman Pajajaran dan Majapahit (abad XI), senjata Keris sudah di kenal di kalangan masyarakat luas, khususnya di Pulau Jawa dan Madura. Dan sumber buku Babad di sebutkan bahwa pada jaman sudah ada beberapa orang Empu di Pulau Jawa. Di Pulau Madura, berdasarkan banyak sekali informasi, banyak di jumpai Empu. Nama Empu yang di populerkan di Pulau Madura: Empu Keleng, Empu Pandhewu, Empu Luwih, dan Empu Sanung. Senjata keris ini berfungsi untuk alat menyerang, membela diri dan berburu.

Keris yakni Senjata tikam yang ujungnya runcing dan pada kedua belah sisinya bermata tajam. Keris yakni salah satu senjata tradisional yang terdapat di Desa Lenteng Barat, Kec. Lenteng, Kab. Sumenep, Jawa Timur. Mengenai kapan munculnya senjata tradisional tersebut, tidak ada bukti jelas. Namun, sejata tradisional Keris yang ada di Pulau Jawa. Keris merupakan senjata tradisional yang di kategorikan untuk menyerang dan membela diri. Proses pembuatan keris menggunakan hukum tertentu. dalam persiapan, di pilih hari Jumat Pon, Sabtu Wage atau Ahad Kliwon. Pantangannya yakni tiga hari sehabis kelahiran orang yang membuat senjata merupakan hari naas. Bulan Muharam hingga Maulud juga jadi pantangan. Pembuatan Keris juga di lengkapi dengan sesaji. Keris mempunyai fungsi sosial sebagai alat untuk menyerang, membela diri, dan berburu.

2. Clurit Kembang Turi

Bagi masyarakat Madura, Celurit tak sanggup dipisahkan dari budaya dan tradisi mereka hingga dikala ini. Senjata tradisional ini mempunyai bilahnya berbentuk melengkung bentuk bilah inilah yang menjadi ciri khasnya. Celurit menjadi senjata khas suku Madura yang biasa digunakan sebagai senjata carok.

Senjata ini melegenda sebagai senjata yang biasa digunakan oleh tokoh berjulukan Sakera. Masyarakat Madura biasanya memasukkan khodam, sejenis makhluk gaib yang menempati suatu benda, ke dalam celurit dengan cara merapalkan doa-doa sebelum carok. Walaupun demikian, intinya fungsi utama senjata ini merupakan salahsatu dari alat pertanian.
3.Gagang (pegangan)

Senjata (alat) ini berfungsi sebagai alat untuk membantu kegiatan sehari-hari bagi suku Using di Banyuwangi dan untuk menjaga diri dari banyak sekali ancaman. Senjata ini dilengkapi dengan sarung pelindung.

Ukurannya
1. Lengkap berserta sarung pelindungnya yakni 46,5cm
2. Pengangan 18cm
3. Sarung 29cm
4. Hiasan sarung 10cm

5.Suku bangsa
Mayoritas penduduk Jawa Timur yakni Suku Jawa, namun demikian, etnisitas di Jawa Timur lebih heterogen. Suku Jawa menyebar hampir di seluruh wilayah Jawa Timur daratan. Suku Madura mendiami di Pulau Madura, dan daerah Tapal Kuda (Jawa Timur pecahan timur), terutama di daerah pesisir utara, dan selatan. Di sejumlah daerah Tapal Kuda, Suku Madura bahkan merupakan mayoritas. Hampir di seluruh kota di Jawa Timur terdapat minoritas Suku Madura, umumnya mereka bekerja di sektor informal.

Suku Bawean mendiami Pulau Bawean di pecahan utara Kabupaten Gresik. Suku Tengger, konon yakni keturunan pelarian Kerajaan Majapahit, tersebar di Pegunungan Tengger, dan sekitarnya. Suku Osing tinggal di sebagian wilayah Kabupaten Banyuwangi. Orang Samin tinggal di sebagian pedalaman Kabupaten Bojonegoro.

Selain penduduk asli, Jawa Timur juga merupakan tempat tinggal bagi para pendatang. Orang Tionghoa yakni minoritas yang cukup signifikan, dan mayoritas di beberapa tempat, diikuti dengan Arab; mereka umumnya tinggal di daerah perkotaan. Suku Bali juga tinggal di sejumlah desa di Kabupaten Banyuwangi. Dewasa ini banyak ekspatriat tinggal di Jawa Timur, terutama di Surabaya, dan sejumlah daerah industri lainnya.
  •     Suku Jawa
  •     Suku Madura
  •     Suku Osing
  •     Tionghoa
  •     Suku Bawean
  •     Suku Sunda
  •     Suku Tengger
  •     Arab
  •     Suku Bugis
  •     Suku Banjar
  •     Suku Betawi
  •     Suku Minangkabau
  •     Suku Banten
6.Batik

Batik Jawa Timur Jauh Lebih Tua daripada Usia Batik Jateng, Batik masih sering diidentikkan dengan masyarakat Jawa Tengah. Yang sesungguhnya, batik Jawa Timur Jebih kaya corak dan usianya jauh lebih tua. Sebuah pekerjaan rumah bagi penggiat batik Jatim untuk lebih mengenalkan ciri khas mereka di mata publik. Batik Jawa Timur Warna dan garis tegas Tiap 38 Kabupaten/Kota punya motif khas Tidak mempunyai pakem alias bebas Mayoritas gambar motif berukuran besar-besar. Banyak mewakili alam (hewan/tumbuhan). Batik Daerah Lain Warna dan garis lebih halus Ciri khas dan motif terbatas Terikat pakem khusus Motif teratur sesuai dengan pakem Umumnya menggunakan gambar bendo atau simbol-simbol.
  • Batik Magetan


Motif kontemporer pun sanggup menjadi batik yang laris di Jatim. Berbeda dengan batik Jawa Tengah yang cenderung sa¬ngat halus dan terstruktur.

  • Batik Madura


Ternyata, Pulau Madura tak hanya tersohor dengan karapan sapi dan garamnya. Wilayah yang termasuk Provinsi Jawa Timur ini juga terkenal sebagai penghasil batik. Bahkan, produk batiknya mempunyai ragam warna dan motif yang tidak kalah dengan produksi daerah lain. Batik Madura menggunakan pewarna alami sehingga warnanya cukup mencolok. Selain warna yang mencolok, menyerupai kuning, merah atau hijau, batik Madura juga mempunyai perbendaharaan motif yang beragam. Misalnya, pucuk tombak, belah ketupat, dan rajut. Bahkan, ada sejumlah motif mengangkat aneka tanaman dan fauna yang ada dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Madura.
  • Batik Pacitan



Batik tulis khas pacitan tergolong jenis klasik menyerupai Motif Sidomulyo, Sekar Jagat, Semen Romodan Kembang-Kembang.
  • Batik Sidoarjo

Sidoarjo juga punya Kampoeng batik dengan nama Batik Jetis, Kampoeng ini memproduksi batik tulis dengan motif yang khas dari Sidoarjo. Motif kain batik asal Jetis didominasi tanaman dan fauna khas Sidoarjo yang mempunyai warna-warna cerah, merah, hijau, kuning, dan hitam. Motifnya juga motif kuno, tidak banyak perubahan dari motif yang dulu digunakan oleh para pendahulu.
  • Batik Tuban

Batik ini kemudian disebut Batik Gedog. Dalam buku Batik Fabled Cloth of Java karangan Inger McCabe Elliot tertulis, bahwasanya batik Tuban menyerupai dengan batik Cirebon pada pertengahan masa ke-19. Kemiripan ini terjadi pada penggunaan benang pintal dan penggunaan warna merah dan biru pada proses pencelupan.
  • Batik Banyuwangi

Semua nama motif dari batik orisinil Bumi blambangan banyak dipengaruhi oleh kondisi alam. Misalnya, Batik Gajah Oling yang cukup dikenal itu, motifnya berupa binatang menyerupai belut yang ukurannya cukup besar. Motif Sembruk Cacing juga motifnya menyerupai cacing dan motif Gedegan juga kayak gedeg ( anyaman bamboo ).
  • Batik Mojokerto

Batik Mojokerto merupakan sebuah budaya kerajinan batik yang sejarahnya berkembang dengan masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Keunikan batik Mojokerto yakni pada nama-nama coraknya yang sangat asing dan asing di indera pendengaran sebagian orang. Misalnya gedeg rubuh, matahari, mrico bolong, pring sedapur, grinsing, atau surya majapait. Batik Mojokerto sekarang mempunyai 6 motif yang telah dipatenkan, yakni pring sedapur, mrico bolong, sisik gringsing, koro renteng, rawan indek dan matahari.
Desain batik itu Mojokerto mengambil corak alam sekitar kehidupan manusia. Misalnya motif pring sedapur merupakan gambar rumpun bambu dengan daun-daun menjuntai. Ada burung merak bertengger. Warna dasarnya putih dengan batang bambu warna biru. Sedangkan daunnya warna biru dan hitam. Demikian pula motif gedeg rubuh, coraknya menyerupai mirip anyaman bambu yang miring. Kalau mrico bolong, motifnya berupa bulatan merica berlubang.

  • Batik Ponorogo

Batik Ponorogo terkenal dengan motif meraknya yang diilhami dari kesenian reog yang menjadi ikon di daerah ini. Hingga sekarang paling tidak sudah 25 corak batik Ponorogo diciptakan. Motif batik lainnya antara lain merak tarung, merak romantis, sekar jagad, dan batik reog.
Konsep reog benar2 menjadi inspirasi bagi pembuatan desain Batik Ponorogo. Seperti motif burung Merak, menyerupai punggung merak reog Ponorogo atau bahkan konsep punggung reog ponorogo itu sendiri.



  • Batik Tulungagung

Pesona batik Tulungagung terletak pada tingkat keberanian memadukan warna untuk menghasilkan batik dengan warna yang berbeda. Dari yang kebanyakan berwarna coklat maupun hitam, sekarang lebih berani dengan memainkan warna yang lebih cerah. Beberapa motif yang paling banyak dibentuk di Tulungagung antara lain “buket ceprik gringsing”,”buket ceprik pacit ungker”, serta “lereng buket”. Ketiga motif tersebut merupakan satu di antara 86 motif yang dimiliki para perajin di Tulungagung.

7. Alat Musik Tradisional Jawa Timur
Alat musik tradisional daerah Jawa Timur pada umumnya sama dengan alat-alat musik tradisional/ daerah yang terdapat di Jawa Tengah, yaitu gamelan. Jenis-jenis alat musik lain juga terdapat di Provinsi Jawa Timur. Alat musik ini digunakan untuk mengiringi banyak sekali jenis kesenian. Berikut beberapa jenis musik beserta alat musik yang digunakan untuk mengiringi. Beberapa seni musik tradisional di Provinsi Jawa Timur sebagai berikut.

  •     Gamelan merupakan jenis musik tradisional Jawa yang terdiri atas beberapa instrumen (alat) musik, menyerupai bonang, saron, kendang, gong, gambang, gender, demung, ketuk, dan rebab. Seperangkat musik gamelan yang terdiri atas gamelan laras slendro dan laras pelog disebut gamelan sepangkon.Pengiring Reog yakni jenis musik untuk mengiringi kesenian Reog Ponorogo yang terdiri atas terompet, gong, dan kendang.
  •  Patrol merupakan jenis musik yang peralatannya menggunakan kentongan bambu atau kayu yang dibunyikan dengan irama teratur sehingga menghasiikan bunyi yang lezat didengar. Pada awalnya digunakan untuk kegiatan ronda malam (siskamling), kemudian berubah menjadi musik yang diperdengarkan pada malam hari di bulan bulan mulia untuk membangunkan orang sahur.
  •   Gedokan termasuk jenis musik tradisional dari daerah Kabupaten Banyuwangi yang dipergelarkan pada waktu orang punya hajatan. Alat musiknya terdiri atas lumpang (lesung), alu (antan), dan dua potong besi.
  •  Bordah merupakan jenis musik tradisional dari daerah Kabupaten Banyuwangi yang bernapaskan Islam. Alat musiknya terdiri atas terbangan atau rebana dalam banyak sekali ukuran. Rebana tersebut dimainkan untuk mengiringi lagu-lagu kasidahan.
  •  Terbang merupakan jenis musik tradisional dari daerah Kabupaten Banyuwangi yang bernapaskan Islam. Alat musiknya terdiri atas rebana (sebagai alat musik pokok) yang dilengkapi dengan kendang, ketuk, jidor (bedhug) dengan tiga macam ukuran, gong, dan organ.
  •   Angklung yakni musik tradisional dari daerah Kabupaten Banyuwangi yang dimainkan oleh 12-14 orang dengan peralatan angklung, saron, kendang, dan gong. Jenis musik angklung ada empat macam, yaitu angklung caruk, angklung tetak, angklung paglak, dan angklung blambangan.
8.Lagu Daerah Jawa Timur
Istilah lagu daerah ada yang menyebutnya sebagai lagu rakyat. Lagu-lagu derah Jawa Timur antara lain, Kerraban Sape, Bapak Tane (Pajjer Laggu), Lir-Saailir, Dulkanaa’ Dulkannong, Gai’ Bintang, Bing Ana’, Grimis-Grimis, Jembatan Merah, Surabaya Oh Surabaya, dan Rek Ayo Rek. Selain lagu daerah, berapa suku bangsa di Provinsi Jawa Timur juga mengenal tembang yang terdiri atas:

    Tembang Gedhe (Sekar Ageng), menyerupai Kusumastuti, Pamularsih, Maduretna, Lebdajiwa, Kusumawicitra, Sudiradraka, Basanta, Mangga Iagita, Sikarini, Nagabanda, Banjarsari, Tepikawuri, Bremarakrasa, Kuswarini, Sarapada, Tebukasol, Madayanti, Sudirawicitra, Meraknguwun, dan Candrakusurna.

    Tembang Tengahan (Sekar Tengahan), menyerupai Balabak, Wirangrong, Jurudemung, Dudukwuluh, Pangajabsih, Lontang, Palugon, Pranasrnara, Rangsang Tuban, Sardhula Kawekas, Kenya Kedhiri, Sari Mulat, dan Rarabentrok.
    

Sumber:             http://bernikabenyang79.000webhostapp.com/batik-jawa-timur/
            

Awal mula munculnya senjata keris tidak ada kepastian. Namun pada jaman Pajajaran dan Majapahit (abad XI), senjata Keris sudah di kenal di kalangan masyarakat luas, khususnya di Pulau Jawa dan Madura. Dan sumber buku Babad di sebutkan bahwa pada jaman sudah ada beberapa orang Empu di Pulau Jawa. Di Pulau Madura, berdasarkan banyak sekali informasi, banyak di jumpai Empu. Nama Empu yang di populerkan di Pulau Madura: Empu Keleng, Empu Pandhewu, Empu Luwih, dan Empu Sanung. Senjata keris ini berfungsi untuk alat menyerang, membela diri dan berburu.

Keris yakni Senjata tikam yang ujungnya runcing dan pada kedua belah sisinya bermata tajam. Keris yakni salah satu senjata tradisional yang terdapat di Desa Lenteng Barat, Kec. Lenteng, Kab. Sumenep, Jawa Timur. Mengenai kapan munculnya senjata tradisional tersebut, tidak ada bukti jelas. Namun, sejata tradisional Keris yang ada di Pulau Jawa. Keris merupakan senjata tradisional yang di kategorikan untuk menyerang dan membela diri. Proses pembuatan keris menggunakan hukum tertentu. dalam persiapan, di pilih hari Jumat Pon, Sabtu Wage atau Ahad Kliwon. Pantangannya yakni tiga hari sehabis kelahiran orang yang membuat senjata merupakan hari naas. Bulan Muharam hingga Maulud juga jadi pantangan. Pembuatan Keris juga di lengkapi dengan sesaji. Keris mempunyai fungsi sosial sebagai alat untuk menyerang, membela diri, dan berburu.

2. Clurit Kembang Turi

Bagi masyarakat Madura, Celurit tak sanggup dipisahkan dari budaya dan tradisi mereka hingga dikala ini. Senjata tradisional ini mempunyai bilahnya berbentuk melengkung bentuk bilah inilah yang menjadi ciri khasnya. Celurit menjadi senjata khas suku Madura yang biasa digunakan sebagai senjata carok.

Senjata ini melegenda sebagai senjata yang biasa digunakan oleh tokoh berjulukan Sakera. Masyarakat Madura biasanya memasukkan khodam, sejenis makhluk gaib yang menempati suatu benda, ke dalam celurit dengan cara merapalkan doa-doa sebelum carok. Walaupun demikian, intinya fungsi utama senjata ini merupakan salahsatu dari alat pertanian.
3.Gagang (pegangan)

Senjata (alat) ini berfungsi sebagai alat untuk membantu kegiatan sehari-hari bagi suku Using di Banyuwangi dan untuk menjaga diri dari banyak sekali ancaman. Senjata ini dilengkapi dengan sarung pelindung.

Ukurannya
1. Lengkap berserta sarung pelindungnya yakni 46,5cm
2. Pengangan 18cm
3. Sarung 29cm
4. Hiasan sarung 10cm

5.Suku bangsa
Mayoritas penduduk Jawa Timur yakni Suku Jawa, namun demikian, etnisitas di Jawa Timur lebih heterogen. Suku Jawa menyebar hampir di seluruh wilayah Jawa Timur daratan. Suku Madura mendiami di Pulau Madura, dan daerah Tapal Kuda (Jawa Timur pecahan timur), terutama di daerah pesisir utara, dan selatan. Di sejumlah daerah Tapal Kuda, Suku Madura bahkan merupakan mayoritas. Hampir di seluruh kota di Jawa Timur terdapat minoritas Suku Madura, umumnya mereka bekerja di sektor informal.

Suku Bawean mendiami Pulau Bawean di pecahan utara Kabupaten Gresik. Suku Tengger, konon yakni keturunan pelarian Kerajaan Majapahit, tersebar di Pegunungan Tengger, dan sekitarnya. Suku Osing tinggal di sebagian wilayah Kabupaten Banyuwangi. Orang Samin tinggal di sebagian pedalaman Kabupaten Bojonegoro.

Selain penduduk asli, Jawa Timur juga merupakan tempat tinggal bagi para pendatang. Orang Tionghoa yakni minoritas yang cukup signifikan, dan mayoritas di beberapa tempat, diikuti dengan Arab; mereka umumnya tinggal di daerah perkotaan. Suku Bali juga tinggal di sejumlah desa di Kabupaten Banyuwangi. Dewasa ini banyak ekspatriat tinggal di Jawa Timur, terutama di Surabaya, dan sejumlah daerah industri lainnya.
  •     Suku Jawa
  •     Suku Madura
  •     Suku Osing
  •     Tionghoa
  •     Suku Bawean
  •     Suku Sunda
  •     Suku Tengger
  •     Arab
  •     Suku Bugis
  •     Suku Banjar
  •     Suku Betawi
  •     Suku Minangkabau
  •     Suku Banten
6.Batik

Batik Jawa Timur Jauh Lebih Tua daripada Usia Batik Jateng, Batik masih sering diidentikkan dengan masyarakat Jawa Tengah. Yang sesungguhnya, batik Jawa Timur Jebih kaya corak dan usianya jauh lebih tua. Sebuah pekerjaan rumah bagi penggiat batik Jatim untuk lebih mengenalkan ciri khas mereka di mata publik. Batik Jawa Timur Warna dan garis tegas Tiap 38 Kabupaten/Kota punya motif khas Tidak mempunyai pakem alias bebas Mayoritas gambar motif berukuran besar-besar. Banyak mewakili alam (hewan/tumbuhan). Batik Daerah Lain Warna dan garis lebih halus Ciri khas dan motif terbatas Terikat pakem khusus Motif teratur sesuai dengan pakem Umumnya menggunakan gambar bendo atau simbol-simbol.
  • Batik Magetan


Motif kontemporer pun sanggup menjadi batik yang laris di Jatim. Berbeda dengan batik Jawa Tengah yang cenderung sa¬ngat halus dan terstruktur.

  • Batik Madura


Ternyata, Pulau Madura tak hanya tersohor dengan karapan sapi dan garamnya. Wilayah yang termasuk Provinsi Jawa Timur ini juga terkenal sebagai penghasil batik. Bahkan, produk batiknya mempunyai ragam warna dan motif yang tidak kalah dengan produksi daerah lain. Batik Madura menggunakan pewarna alami sehingga warnanya cukup mencolok. Selain warna yang mencolok, menyerupai kuning, merah atau hijau, batik Madura juga mempunyai perbendaharaan motif yang beragam. Misalnya, pucuk tombak, belah ketupat, dan rajut. Bahkan, ada sejumlah motif mengangkat aneka tanaman dan fauna yang ada dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Madura.
  • Batik Pacitan



Batik tulis khas pacitan tergolong jenis klasik menyerupai Motif Sidomulyo, Sekar Jagat, Semen Romodan Kembang-Kembang.
  • Batik Sidoarjo

Sidoarjo juga punya Kampoeng batik dengan nama Batik Jetis, Kampoeng ini memproduksi batik tulis dengan motif yang khas dari Sidoarjo. Motif kain batik asal Jetis didominasi tanaman dan fauna khas Sidoarjo yang mempunyai warna-warna cerah, merah, hijau, kuning, dan hitam. Motifnya juga motif kuno, tidak banyak perubahan dari motif yang dulu digunakan oleh para pendahulu.
  • Batik Tuban

Batik ini kemudian disebut Batik Gedog. Dalam buku Batik Fabled Cloth of Java karangan Inger McCabe Elliot tertulis, bahwasanya batik Tuban menyerupai dengan batik Cirebon pada pertengahan masa ke-19. Kemiripan ini terjadi pada penggunaan benang pintal dan penggunaan warna merah dan biru pada proses pencelupan.
  • Batik Banyuwangi

Semua nama motif dari batik orisinil Bumi blambangan banyak dipengaruhi oleh kondisi alam. Misalnya, Batik Gajah Oling yang cukup dikenal itu, motifnya berupa binatang menyerupai belut yang ukurannya cukup besar. Motif Sembruk Cacing juga motifnya menyerupai cacing dan motif Gedegan juga kayak gedeg ( anyaman bamboo ).
  • Batik Mojokerto

Batik Mojokerto merupakan sebuah budaya kerajinan batik yang sejarahnya berkembang dengan masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Keunikan batik Mojokerto yakni pada nama-nama coraknya yang sangat asing dan asing di indera pendengaran sebagian orang. Misalnya gedeg rubuh, matahari, mrico bolong, pring sedapur, grinsing, atau surya majapait. Batik Mojokerto sekarang mempunyai 6 motif yang telah dipatenkan, yakni pring sedapur, mrico bolong, sisik gringsing, koro renteng, rawan indek dan matahari.
Desain batik itu Mojokerto mengambil corak alam sekitar kehidupan manusia. Misalnya motif pring sedapur merupakan gambar rumpun bambu dengan daun-daun menjuntai. Ada burung merak bertengger. Warna dasarnya putih dengan batang bambu warna biru. Sedangkan daunnya warna biru dan hitam. Demikian pula motif gedeg rubuh, coraknya menyerupai mirip anyaman bambu yang miring. Kalau mrico bolong, motifnya berupa bulatan merica berlubang.

  • Batik Ponorogo

Batik Ponorogo terkenal dengan motif meraknya yang diilhami dari kesenian reog yang menjadi ikon di daerah ini. Hingga sekarang paling tidak sudah 25 corak batik Ponorogo diciptakan. Motif batik lainnya antara lain merak tarung, merak romantis, sekar jagad, dan batik reog.
Konsep reog benar2 menjadi inspirasi bagi pembuatan desain Batik Ponorogo. Seperti motif burung Merak, menyerupai punggung merak reog Ponorogo atau bahkan konsep punggung reog ponorogo itu sendiri.



  • Batik Tulungagung

Pesona batik Tulungagung terletak pada tingkat keberanian memadukan warna untuk menghasilkan batik dengan warna yang berbeda. Dari yang kebanyakan berwarna coklat maupun hitam, sekarang lebih berani dengan memainkan warna yang lebih cerah. Beberapa motif yang paling banyak dibentuk di Tulungagung antara lain “buket ceprik gringsing”,”buket ceprik pacit ungker”, serta “lereng buket”. Ketiga motif tersebut merupakan satu di antara 86 motif yang dimiliki para perajin di Tulungagung.

7. Alat Musik Tradisional Jawa Timur
Alat musik tradisional daerah Jawa Timur pada umumnya sama dengan alat-alat musik tradisional/ daerah yang terdapat di Jawa Tengah, yaitu gamelan. Jenis-jenis alat musik lain juga terdapat di Provinsi Jawa Timur. Alat musik ini digunakan untuk mengiringi banyak sekali jenis kesenian. Berikut beberapa jenis musik beserta alat musik yang digunakan untuk mengiringi. Beberapa seni musik tradisional di Provinsi Jawa Timur sebagai berikut.

  •     Gamelan merupakan jenis musik tradisional Jawa yang terdiri atas beberapa instrumen (alat) musik, menyerupai bonang, saron, kendang, gong, gambang, gender, demung, ketuk, dan rebab. Seperangkat musik gamelan yang terdiri atas gamelan laras slendro dan laras pelog disebut gamelan sepangkon.Pengiring Reog yakni jenis musik untuk mengiringi kesenian Reog Ponorogo yang terdiri atas terompet, gong, dan kendang.
  •  Patrol merupakan jenis musik yang peralatannya menggunakan kentongan bambu atau kayu yang dibunyikan dengan irama teratur sehingga menghasiikan bunyi yang lezat didengar. Pada awalnya digunakan untuk kegiatan ronda malam (siskamling), kemudian berubah menjadi musik yang diperdengarkan pada malam hari di bulan bulan mulia untuk membangunkan orang sahur.
  •   Gedokan termasuk jenis musik tradisional dari daerah Kabupaten Banyuwangi yang dipergelarkan pada waktu orang punya hajatan. Alat musiknya terdiri atas lumpang (lesung), alu (antan), dan dua potong besi.
  •  Bordah merupakan jenis musik tradisional dari daerah Kabupaten Banyuwangi yang bernapaskan Islam. Alat musiknya terdiri atas terbangan atau rebana dalam banyak sekali ukuran. Rebana tersebut dimainkan untuk mengiringi lagu-lagu kasidahan.
  •  Terbang merupakan jenis musik tradisional dari daerah Kabupaten Banyuwangi yang bernapaskan Islam. Alat musiknya terdiri atas rebana (sebagai alat musik pokok) yang dilengkapi dengan kendang, ketuk, jidor (bedhug) dengan tiga macam ukuran, gong, dan organ.
  •   Angklung yakni musik tradisional dari daerah Kabupaten Banyuwangi yang dimainkan oleh 12-14 orang dengan peralatan angklung, saron, kendang, dan gong. Jenis musik angklung ada empat macam, yaitu angklung caruk, angklung tetak, angklung paglak, dan angklung blambangan.
8.Lagu Daerah Jawa Timur
Istilah lagu daerah ada yang menyebutnya sebagai lagu rakyat. Lagu-lagu derah Jawa Timur antara lain, Kerraban Sape, Bapak Tane (Pajjer Laggu), Lir-Saailir, Dulkanaa’ Dulkannong, Gai’ Bintang, Bing Ana’, Grimis-Grimis, Jembatan Merah, Surabaya Oh Surabaya, dan Rek Ayo Rek. Selain lagu daerah, berapa suku bangsa di Provinsi Jawa Timur juga mengenal tembang yang terdiri atas:

    Tembang Gedhe (Sekar Ageng), menyerupai Kusumastuti, Pamularsih, Maduretna, Lebdajiwa, Kusumawicitra, Sudiradraka, Basanta, Mangga Iagita, Sikarini, Nagabanda, Banjarsari, Tepikawuri, Bremarakrasa, Kuswarini, Sarapada, Tebukasol, Madayanti, Sudirawicitra, Meraknguwun, dan Candrakusurna.

    Tembang Tengahan (Sekar Tengahan), menyerupai Balabak, Wirangrong, Jurudemung, Dudukwuluh, Pangajabsih, Lontang, Palugon, Pranasrnara, Rangsang Tuban, Sardhula Kawekas, Kenya Kedhiri, Sari Mulat, dan Rarabentrok.
    

Sumber:https://www.karimganas.com//search?q=61500-keris.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;">

Awal mula munculnya senjata keris tidak ada kepastian. Namun pada jaman Pajajaran dan Majapahit (abad XI), senjata Keris sudah di kenal di kalangan masyarakat luas, khususnya di Pulau Jawa dan Madura. Dan sumber buku Babad di sebutkan bahwa pada jaman sudah ada beberapa orang Empu di Pulau Jawa. Di Pulau Madura, berdasarkan banyak sekali informasi, banyak di jumpai Empu. Nama Empu yang di populerkan di Pulau Madura: Empu Keleng, Empu Pandhewu, Empu Luwih, dan Empu Sanung. Senjata keris ini berfungsi untuk alat menyerang, membela diri dan berburu.

Keris yakni Senjata tikam yang ujungnya runcing dan pada kedua belah sisinya bermata tajam. Keris yakni salah satu senjata tradisional yang terdapat di Desa Lenteng Barat, Kec. Lenteng, Kab. Sumenep, Jawa Timur. Mengenai kapan munculnya senjata tradisional tersebut, tidak ada bukti jelas. Namun, sejata tradisional Keris yang ada di Pulau Jawa. Keris merupakan senjata tradisional yang di kategorikan untuk menyerang dan membela diri. Proses pembuatan keris menggunakan hukum tertentu. dalam persiapan, di pilih hari Jumat Pon, Sabtu Wage atau Ahad Kliwon. Pantangannya yakni tiga hari sehabis kelahiran orang yang membuat senjata merupakan hari naas. Bulan Muharam hingga Maulud juga jadi pantangan. Pembuatan Keris juga di lengkapi dengan sesaji. Keris mempunyai fungsi sosial sebagai alat untuk menyerang, membela diri, dan berburu.

2. Clurit Kembang Turi

Bagi masyarakat Madura, Celurit tak sanggup dipisahkan dari budaya dan tradisi mereka hingga dikala ini. Senjata tradisional ini mempunyai bilahnya berbentuk melengkung bentuk bilah inilah yang menjadi ciri khasnya. Celurit menjadi senjata khas suku Madura yang biasa digunakan sebagai senjata carok.

Senjata ini melegenda sebagai senjata yang biasa digunakan oleh tokoh berjulukan Sakera. Masyarakat Madura biasanya memasukkan khodam, sejenis makhluk gaib yang menempati suatu benda, ke dalam celurit dengan cara merapalkan doa-doa sebelum carok. Walaupun demikian, intinya fungsi utama senjata ini merupakan salahsatu dari alat pertanian.
3.Gagang (pegangan)

Senjata (alat) ini berfungsi sebagai alat untuk membantu kegiatan sehari-hari bagi suku Using di Banyuwangi dan untuk menjaga diri dari banyak sekali ancaman. Senjata ini dilengkapi dengan sarung pelindung.

Ukurannya
1. Lengkap berserta sarung pelindungnya yakni 46,5cm
2. Pengangan 18cm
3. Sarung 29cm
4. Hiasan sarung 10cm

5.Suku bangsa
Mayoritas penduduk Jawa Timur yakni Suku Jawa, namun demikian, etnisitas di Jawa Timur lebih heterogen. Suku Jawa menyebar hampir di seluruh wilayah Jawa Timur daratan. Suku Madura mendiami di Pulau Madura, dan daerah Tapal Kuda (Jawa Timur pecahan timur), terutama di daerah pesisir utara, dan selatan. Di sejumlah daerah Tapal Kuda, Suku Madura bahkan merupakan mayoritas. Hampir di seluruh kota di Jawa Timur terdapat minoritas Suku Madura, umumnya mereka bekerja di sektor informal.

Suku Bawean mendiami Pulau Bawean di pecahan utara Kabupaten Gresik. Suku Tengger, konon yakni keturunan pelarian Kerajaan Majapahit, tersebar di Pegunungan Tengger, dan sekitarnya. Suku Osing tinggal di sebagian wilayah Kabupaten Banyuwangi. Orang Samin tinggal di sebagian pedalaman Kabupaten Bojonegoro.

Selain penduduk asli, Jawa Timur juga merupakan tempat tinggal bagi para pendatang. Orang Tionghoa yakni minoritas yang cukup signifikan, dan mayoritas di beberapa tempat, diikuti dengan Arab; mereka umumnya tinggal di daerah perkotaan. Suku Bali juga tinggal di sejumlah desa di Kabupaten Banyuwangi. Dewasa ini banyak ekspatriat tinggal di Jawa Timur, terutama di Surabaya, dan sejumlah daerah industri lainnya.
  •     Suku Jawa
  •     Suku Madura
  •     Suku Osing
  •     Tionghoa
  •     Suku Bawean
  •     Suku Sunda
  •     Suku Tengger
  •     Arab
  •     Suku Bugis
  •     Suku Banjar
  •     Suku Betawi
  •     Suku Minangkabau
  •     Suku Banten
6.Batik

Batik Jawa Timur Jauh Lebih Tua daripada Usia Batik Jateng, Batik masih sering diidentikkan dengan masyarakat Jawa Tengah. Yang sesungguhnya, batik Jawa Timur Jebih kaya corak dan usianya jauh lebih tua. Sebuah pekerjaan rumah bagi penggiat batik Jatim untuk lebih mengenalkan ciri khas mereka di mata publik. Batik Jawa Timur Warna dan garis tegas Tiap 38 Kabupaten/Kota punya motif khas Tidak mempunyai pakem alias bebas Mayoritas gambar motif berukuran besar-besar. Banyak mewakili alam (hewan/tumbuhan). Batik Daerah Lain Warna dan garis lebih halus Ciri khas dan motif terbatas Terikat pakem khusus Motif teratur sesuai dengan pakem Umumnya menggunakan gambar bendo atau simbol-simbol.
  • Batik Magetan


Motif kontemporer pun sanggup menjadi batik yang laris di Jatim. Berbeda dengan batik Jawa Tengah yang cenderung sa¬ngat halus dan terstruktur.

  • Batik Madura


Ternyata, Pulau Madura tak hanya tersohor dengan karapan sapi dan garamnya. Wilayah yang termasuk Provinsi Jawa Timur ini juga terkenal sebagai penghasil batik. Bahkan, produk batiknya mempunyai ragam warna dan motif yang tidak kalah dengan produksi daerah lain. Batik Madura menggunakan pewarna alami sehingga warnanya cukup mencolok. Selain warna yang mencolok, menyerupai kuning, merah atau hijau, batik Madura juga mempunyai perbendaharaan motif yang beragam. Misalnya, pucuk tombak, belah ketupat, dan rajut. Bahkan, ada sejumlah motif mengangkat aneka tanaman dan fauna yang ada dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Madura.
  • Batik Pacitan



Batik tulis khas pacitan tergolong jenis klasik menyerupai Motif Sidomulyo, Sekar Jagat, Semen Romodan Kembang-Kembang.
  • Batik Sidoarjo

Sidoarjo juga punya Kampoeng batik dengan nama Batik Jetis, Kampoeng ini memproduksi batik tulis dengan motif yang khas dari Sidoarjo. Motif kain batik asal Jetis didominasi tanaman dan fauna khas Sidoarjo yang mempunyai warna-warna cerah, merah, hijau, kuning, dan hitam. Motifnya juga motif kuno, tidak banyak perubahan dari motif yang dulu digunakan oleh para pendahulu.
  • Batik Tuban

Batik ini kemudian disebut Batik Gedog. Dalam buku Batik Fabled Cloth of Java karangan Inger McCabe Elliot tertulis, bahwasanya batik Tuban menyerupai dengan batik Cirebon pada pertengahan masa ke-19. Kemiripan ini terjadi pada penggunaan benang pintal dan penggunaan warna merah dan biru pada proses pencelupan.
  • Batik Banyuwangi

Semua nama motif dari batik orisinil Bumi blambangan banyak dipengaruhi oleh kondisi alam. Misalnya, Batik Gajah Oling yang cukup dikenal itu, motifnya berupa binatang menyerupai belut yang ukurannya cukup besar. Motif Sembruk Cacing juga motifnya menyerupai cacing dan motif Gedegan juga kayak gedeg ( anyaman bamboo ).
  • Batik Mojokerto

Batik Mojokerto merupakan sebuah budaya kerajinan batik yang sejarahnya berkembang dengan masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Keunikan batik Mojokerto yakni pada nama-nama coraknya yang sangat asing dan asing di indera pendengaran sebagian orang. Misalnya gedeg rubuh, matahari, mrico bolong, pring sedapur, grinsing, atau surya majapait. Batik Mojokerto sekarang mempunyai 6 motif yang telah dipatenkan, yakni pring sedapur, mrico bolong, sisik gringsing, koro renteng, rawan indek dan matahari.
Desain batik itu Mojokerto mengambil corak alam sekitar kehidupan manusia. Misalnya motif pring sedapur merupakan gambar rumpun bambu dengan daun-daun menjuntai. Ada burung merak bertengger. Warna dasarnya putih dengan batang bambu warna biru. Sedangkan daunnya warna biru dan hitam. Demikian pula motif gedeg rubuh, coraknya menyerupai mirip anyaman bambu yang miring. Kalau mrico bolong, motifnya berupa bulatan merica berlubang.

  • Batik Ponorogo

Batik Ponorogo terkenal dengan motif meraknya yang diilhami dari kesenian reog yang menjadi ikon di daerah ini. Hingga sekarang paling tidak sudah 25 corak batik Ponorogo diciptakan. Motif batik lainnya antara lain merak tarung, merak romantis, sekar jagad, dan batik reog.
Konsep reog benar2 menjadi inspirasi bagi pembuatan desain Batik Ponorogo. Seperti motif burung Merak, menyerupai punggung merak reog Ponorogo atau bahkan konsep punggung reog ponorogo itu sendiri.



  • Batik Tulungagung

Pesona batik Tulungagung terletak pada tingkat keberanian memadukan warna untuk menghasilkan batik dengan warna yang berbeda. Dari yang kebanyakan berwarna coklat maupun hitam, sekarang lebih berani dengan memainkan warna yang lebih cerah. Beberapa motif yang paling banyak dibentuk di Tulungagung antara lain “buket ceprik gringsing”,”buket ceprik pacit ungker”, serta “lereng buket”. Ketiga motif tersebut merupakan satu di antara 86 motif yang dimiliki para perajin di Tulungagung.

7. Alat Musik Tradisional Jawa Timur
Alat musik tradisional daerah Jawa Timur pada umumnya sama dengan alat-alat musik tradisional/ daerah yang terdapat di Jawa Tengah, yaitu gamelan. Jenis-jenis alat musik lain juga terdapat di Provinsi Jawa Timur. Alat musik ini digunakan untuk mengiringi banyak sekali jenis kesenian. Berikut beberapa jenis musik beserta alat musik yang digunakan untuk mengiringi. Beberapa seni musik tradisional di Provinsi Jawa Timur sebagai berikut.

  •     Gamelan merupakan jenis musik tradisional Jawa yang terdiri atas beberapa instrumen (alat) musik, menyerupai bonang, saron, kendang, gong, gambang, gender, demung, ketuk, dan rebab. Seperangkat musik gamelan yang terdiri atas gamelan laras slendro dan laras pelog disebut gamelan sepangkon.Pengiring Reog yakni jenis musik untuk mengiringi kesenian Reog Ponorogo yang terdiri atas terompet, gong, dan kendang.
  •  Patrol merupakan jenis musik yang peralatannya menggunakan kentongan bambu atau kayu yang dibunyikan dengan irama teratur sehingga menghasiikan bunyi yang lezat didengar. Pada awalnya digunakan untuk kegiatan ronda malam (siskamling), kemudian berubah menjadi musik yang diperdengarkan pada malam hari di bulan bulan mulia untuk membangunkan orang sahur.
  •   Gedokan termasuk jenis musik tradisional dari daerah Kabupaten Banyuwangi yang dipergelarkan pada waktu orang punya hajatan. Alat musiknya terdiri atas lumpang (lesung), alu (antan), dan dua potong besi.
  •  Bordah merupakan jenis musik tradisional dari daerah Kabupaten Banyuwangi yang bernapaskan Islam. Alat musiknya terdiri atas terbangan atau rebana dalam banyak sekali ukuran. Rebana tersebut dimainkan untuk mengiringi lagu-lagu kasidahan.
  •  Terbang merupakan jenis musik tradisional dari daerah Kabupaten Banyuwangi yang bernapaskan Islam. Alat musiknya terdiri atas rebana (sebagai alat musik pokok) yang dilengkapi dengan kendang, ketuk, jidor (bedhug) dengan tiga macam ukuran, gong, dan organ.
  •   Angklung yakni musik tradisional dari daerah Kabupaten Banyuwangi yang dimainkan oleh 12-14 orang dengan peralatan angklung, saron, kendang, dan gong. Jenis musik angklung ada empat macam, yaitu angklung caruk, angklung tetak, angklung paglak, dan angklung blambangan.
8.Lagu Daerah Jawa Timur
Istilah lagu daerah ada yang menyebutnya sebagai lagu rakyat. Lagu-lagu derah Jawa Timur antara lain, Kerraban Sape, Bapak Tane (Pajjer Laggu), Lir-Saailir, Dulkanaa’ Dulkannong, Gai’ Bintang, Bing Ana’, Grimis-Grimis, Jembatan Merah, Surabaya Oh Surabaya, dan Rek Ayo Rek. Selain lagu daerah, berapa suku bangsa di Provinsi Jawa Timur juga mengenal tembang yang terdiri atas:

    Tembang Gedhe (Sekar Ageng), menyerupai Kusumastuti, Pamularsih, Maduretna, Lebdajiwa, Kusumawicitra, Sudiradraka, Basanta, Mangga Iagita, Sikarini, Nagabanda, Banjarsari, Tepikawuri, Bremarakrasa, Kuswarini, Sarapada, Tebukasol, Madayanti, Sudirawicitra, Meraknguwun, dan Candrakusurna.

    Tembang Tengahan (Sekar Tengahan), menyerupai Balabak, Wirangrong, Jurudemung, Dudukwuluh, Pangajabsih, Lontang, Palugon, Pranasrnara, Rangsang Tuban, Sardhula Kawekas, Kenya Kedhiri, Sari Mulat, dan Rarabentrok.
    

Sumber:

Artikel Terkait

", numPosts: 8, titleLength: "auto", thumbnailWidth: 250, thumbnailHeight: 170, noImage: "//3.bp.blogspot.com/-ltyYh4ysBHI/U04MKlHc6pI/AAAAAAAADQo/PFxXaGZu9PQ/w255-h170-c/no-image.png", containerId: "related-post-2025409961725072414", newTabLink: false, moreText: "Read More", widgetStyle: 3, callBack: function() {} };

Belum ada Komentar untuk "Budaya Jawa Timur"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel